Antara Harapan dan Kenyataan

Sebuah tontonan sepak bola bertaraf Internasional baru saja usai digelar di stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan Jakarta Indonesia Selasa malam tanggal 6 September 2011. Kesebelasan Indonesia menjamu kesebelahan Bahrain di Prakualifikasi Piala Dunia Grup E. Dari hasil pertandingan sebelumnya melawan Iran (kesebelasan terkuat dari grup E) – terdiri dari Indonesia, Iran, Bahrain dan Qatar -Indonesia harus menelan kekalahan telak 3:0, yang menyebabkan langkah menuju ke putaran berikutnya agak tersendat. Satu-satunya harapan adalah berharap kesebelasan ‘Garuda di Dadaku itu’ harus mampu mengatasi Bahrain di pertandingan di kandang sendiri itu.

Begitu menggebu-gebu semangat untuk mengalahkan kesebelasan dari negeri Arab itu, untuk dapat menuai kemenangan dan lolos ke Brazil 2014. Soalnya menurut analisis pengamat persepakbolaan nasional kita (yang rata-rata banyak ngomong), kesebelasan kita diatas kertas dari hasil pertandingan yang lalu, selalu dapat memetik kemenangan walau tipis. Jadi, diatas kertas kita bisa dan dapat mengalahkan kesebelasan Bahrain. Pengamat kita bicara tentang kesebelasan Bahrain beberapa tahun yang lalu, bukan kesebelasan Bahrain yang sekarang ini tentunya. Kesebelasan Bahrain yang sekarang ini sudah berubah dan mengalami kemajuan yang signifikan, meskipun masih terlihat kelemahan di barisan pertahanannya yang tidak dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh TimNas kita. Tidak apalah, mungkin analis kita sebenarnya juga terbawa perasaan ’emosional’ ingin melihat kesebelasan negeri ini mampu berkiprah di tingkat Internasional di bidang sepakbola. Di pihak lain suporter sepakbola kita yang ‘maniak’ dari berbagai penjuru tanah air mulai menyanyikan lagu ‘kebangsaan’ TimNas yang terkenal ketika piala AFF 2010 lalu..”..Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku, Kuyakin hari ini pasti menang..” dstnya, maka terakumulasilah semua semangat dan emosional penonton di GBK selasa malam. Bahkan Bapak Presiden kita sendiri semangat membayar tiket sekian juta dengan keluarga dan sejumlah sejawat, pejabat istana untuk menonton langsung pertandingan anak-anak asuhan pelatih Rijsbergen memperagakan permainan cantiknya untuk mengalahkan lawan. Semangat dan harapan suporter Indonesia memuncak, seolah bagaimanapun kesebelasan TimNas harus menang di lapangan, di kandang sendiri berkat dukungan yang ditunjukkan lewat spanduk-spanduk, corengan muka dengan merah putih dan warna baju kesebelasan yang ‘memerah’ GBK malam itu. Tidak terlihat suporter kesebelasan Bahrain, kecil sekali jumlah dan mungkin mareka ikut-ikutan juga memakai baju warna merah untuk mencegah sesuatu terjadi terhadap mareka. Ketika kesebelasan TimNas bertandang ke Iran, waktu pertandingan kita masih melihat suporter Indonesia disana yang mengibar-mengibar merah putih, akan tetapi akhirnya kelelahan juga dan pulang dengan hopeless.

Tapi apa yang terjadi di GBK selasa malam seakan berulang dari suporter/penonton kita yang menggebu-gebu,  dimana di menit-menit terakhir babak pertama harus menerima pil pahit kebobolan 1-0 untuk Bahrain. Wajah-wajah penonton  ketika disorot di layar liputan TV mulai terlihat kekecewaan terhadap permainan Tim Garuda dilapangan. Meskipun kalah 1-0, di babak kedua semua berharap bisa menjungkirbalikkan kenyataan, bahwa Tim Garuda bisa membalas dan memetik kemenangan tipis. Tapi kenyataannya Firman Utina yang selama ini terkenal menjadi ‘libero’ lini tengah TimNas harus digantikan Hariono di babak kedua, tidak mampu juga menggedor pertahanan kesebelasan Bahrain, bahkan gawang Markus kembali di jebol lawan menjadi 2-0.

Melihat kenyataan ini dilapangan, sebagian penonton yang maniak dan fanatik itu tidak terima dan ingin melampiaskan kekesalannya itu ‘entah kepada siapa’. Dan entah dari mana asalnya mercon, bunga api bisa masuk ke arena pertandingan padahal barang ‘haram’ tersebut dilarang oleh FIFA. Tak pelak lagi, wasit asal negeri ginseng yang tegas itu, langsung menghentikan pertandingan. Kita sebagai penonton sebagai penggemar sepak bola yang ingin kita lihat permainan dan kemenangan secara fair play itu, ikut merasa kekecewaan, tapi entah kepada siapa. Demikian juga barisan Presiden yang dikawal oleh barisan Paspampres segera meninggalkan tribun VVIP dengan kekecewaan tentunya. Walaupun terakhir setelah semua offisial pertandiangan turun mengamankan penonton yang kecewa itu pertandingan dapat dilanjutkan kembali sekitar 10 menit terakhir. Tapi hasil akhir sampai juri asal Korea meniupkan peluit terakhir tidak berobah 2-0 untuk kemenangan Bahrain.

Dan harapan kita yang jauh hari sebelum prakualifikasi piala dunia mempersiapkan TimNas  secara baik dengan penuh harapan (Hopeful), melihat dari pertandingan yg terjadi menjadi Hopeless, walaupun sebenarnya itu tidak boleh terjadi karena selama ‘dream’ masih ada kita masih tetap akan berpotensi. Akan tetapi terhadap kenyataan yang telah terjadi, kita harus mampu belajar lebih banyak lagi. Harapan dan realitas sering kali mengecewakan kita semua, tidak hanya di sepakbola, tapi juga di semua bidang kehidupan. Harapan kita semua adalah bangsa ini menjadi bangsa yang semakin bersih dari KKN, kenyataan makin memilukan hati. Harapan kita semua adalah menjadi bangsa yang jujur berbudi berakhlaq mulia berbudi tinggi jauh dari sifat bohong membohongi, kenyataan makin jauh panggang dari api dan seterusnya. Semakin besar harapan yang kita harapkan dan gantungkan, lebih lagi ikut digaungkan dan dikompanyekan oleh pemimpin kita, maka makin besar pula kekecewaan setelah menemui kenyataan-kenyataan yang ada.  Harapan yang tak terpuaskan akan menimbulkan kekecewaan-kekecewaan yang kian lama kian memuncak pada tingkat ‘grass root’ dalam bentuk perilaku yang merusak dan tidak terpuji. Pelampiasannya tidak hanya pada mercon, bunga api dan botol-botol aqua terbang, tapi bisa lebih dahsyat lagi berupa perusakan fisik apa saja yang ditemuinya dan ini telah  terjadi di luar stadion beberapa kali pada pertandingan sebelumnya. Dalam kehidupan sehari-hari kita lihat begitu banyak tawuran antar kampung, perselisihan pilkada dan lain sebagainya. Kepada pemimpin bangsa ini mampukah melihat apa yang sedang dan telah terjadi sampai sejauh ini? Semoga kita terus belajar dari kenyataan ini untuk menjadi bangsa yang besar untuk melangkah ke pentas dunia. InsyaAllah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s