Budaya Hedonis

Akhir-akhir ini kita semua kaget dengan beberapa kejadian yang terjadi di Gedung megah yang bernama Rumah Rakyat (Rumah Kita Semua) DPR Senayan. Setelah beberapa waktu yang lalu rakyat berhasil melawan budaya hedonis dari yang mengatasnamakan rakyat (anggota DPR dan penyelenggara negara) dengan suatu rencana pembangunan gedung baru DPR yang megah dan fasilitas mewah senilai Rp1,16 triliun akhirnya dibatalkan. Sekarang timbul kekagetan baru yang beruntun dengan berita rencana renovasi toilet yang menghabiskan biaya 2 M, pembangunan ruang rapat Badan Anggaran (Banggar) berukuran lebih kurang 10×10 m dengan biaya sebesar Rp 20.370.893.000. Menurut teman arsitek nilai ini cukup fantastis, bayangkan sebagai perabndingan gedung Mahkamah Konstitusi (MK) dibangun dengan nilai Rp.13 juta/m2 sudah cukup megah, ini ruang banggar dari hasil perhitungannya bernilai Rp.203 juta/m2, artinya lbh kurang 15 x lipat biaya pembangunan gedung MK. Selain itu berbagai berita proyek ‘siluman’ muncul seperti fasilitas perparkiran, pewangi ruangan sampai biaya makan rusa peliharaan yang fantastis. Kita tidak bisa menyalahkan media, bila ada ada yang aneh muncul tiba-tiba seperti itu, karena kesannya Kesekretariatan DPR/MPR selama ini seperti tertutup dari publik dalam hal rencana-rencana yang dilakukannya.

Ternyata berita di DPR Senayan itu, hampir sama apa yang dialami di DPRD di beberapa Propinsi dan mungkin sampai DPRD Kabupaten. Memang yang menjadi masalah bukanlah tidak boleh fasilitas negara megah dan mewah untuk menunjang kinerja wakil rakyat dan penyelenggara negara dalam melaksanakan tugasnya, akan tetapi masalahnya kemegahan dan kemewahan yang ditampilkan tidak sesuai dengan rasa keadilan dengan apa yang terjadi dan dirasakan masyarakat sekarang ini. Ada kesan wakil rakyat dan penyelenggara negara hidupnya bermegah2 dan bermewah2, tidak peka dan perduli akan penderitaan dan kemiskinan yang dirasakan rakyat secara merata sekarang ini., ditambah lagi dengan situasi ekonomi yang penuh gonjang ganjing akan mengalami imbas krisis sbg akibat krisis ekonomi dunia (Amerika dan Eropah).

Perilaku tersebut tidak hanya terjadi di Rumah Rakyat, tapi juga pada penyelenggara negara (lembaga Eksekutif) dengan kehidupan dan pola hidup bermegah2 dan bermewah2 dalam kehidupan, yang tercermin dari penyelenggara event-event tertentu. Tidak sesuainya ucapan kata dengan kebijakan dan perbuatan. Pemborosan anggaran terjadi begitu gamblang dan terlihat jelas untuk menaikkan remunerasi birokrasi dan fasilitas serta penambhan, penbentukan berbagai lembaga, Instutusi seperti Satgas dan lain sebagainya, dari segi pemanfaatan dan kinerja yang akan dihasilkan bagi masyarakat dipertanyakan

Kita menyatakan kondisi masayarakat kita dalam keprihatinan bukan tidak ada dasar. Pertama, masayarakat akar rumput (grass root) sudah ada yang meninggal karena kemiskinan dan kurang gizi, meninggal karena sakit tidak ada biaya untuk berobat, bahkan kasus-kasus pencurian tanaman dan buah2an yang banyak terjadi diperkirakan karena mareka tidak ada makanan lagi untuk dikonsumsi. Kedua, konflik sesama mareka memperebutkan tempat parkir yg notabenenya ‘lahan periuk nasi’, pemalakan, premanisne sampai berbagai macam kriminalitas, konflik lahan mempertahankan hak2 dan status tanah mareka yang menjadi tempat kehidupan dan nafkah terakhir keluarganya yang dikuasai oleh korporasi-korporasi, sementara aparat negara tidak berpihak kepada mareka. Ketiga, sedikitnya/tidak banyak lapangan kerja dan kesempatan berusaha di dalam negeri yang bisa memberikan penghasilan yang memadai untuk kehidupan sehingga berlomba-lomba menjadi TKI keluar negeri yang di fasilitasi negara untuk menggenjot devisa, tapi tdk mendapat perlindungan dan keberpihakan yang cukup oleh negara untuk mareka atau mareka menjadi korban calo TKI yang bekerjasama dengan penyelenggara negara. Kesannya mareka di elu-elu sebagai pahlawan devisa, tapi begitu mengalami kesulitan di negara penempatan mareka yang disalahkan.Keempat,hukum tidak berpihak kepada masayarakat lapisan bawah. Pencuri sandal di ancam hukuman lima tahaun penjara sedangkan koruptor yang menilap uang negara dalam jumlah yang cukup besar, fantastis, milyaran bahkan trillyunan dapat hukuman ringan, dapat remisi dan bahkan bebas. Hukum tajam kebawah tumpul keatas. Kelima, KKN dan kasus-kasus korupsi yang terbongkar dan tersaji kemasyarakat semakin jelas dan transparan, kesan adanya keterlibatan dan penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri dan kelompok untuk tujuan-tujuan mendapatkan kekuasaan dan melanggengkannya. Semua lembaga penegakan hukum (KPK, Pengadilan, Kepolisian, dll) seakan ‘tumpul’ untuk mengusut kasus-kasus yang terjadi yang disinyalir melibatkan pejabat-pejabat dan aparatur negara. Hal ini memunculkan senyalemen di masyarakat seolah mareka sengaja dilindungi. Ketidakadilan hukum ini memunculkan rasa frustasi di masyarakat dan mareka akhirnya malakukan tindakan-tindakan main hakim sendiri.

Kehidupan hedonis yang dipertunjukkan sebagian wakil rakyat dan penyelenggara negara semakin terlihat secara kasat mata, ditengah kemiskinan dan kemelaratan sebagian besar masyarakat. Apa itu hedonis? Kita kutip definisi dari Wikipedia, bahwa Hedonis adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. [1] Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan Kata hedonisme diambil dari Bahasa Yunani ἡδονισμός hēdonismos dari akar kata ἡδονή hēdonē, artinya “kesenangan”. [3] Paham ini berusaha menjelaskan adalah baik apa yang memuaskan keinginan manusia dan apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan itu sendiri. Menurut sejarah, tokoh pertama yang mengajarkan Hedonisme adalah seorang ahli filsafat Yunani bernama Democritus (400-370 SM), dimana mengajarkan bahwa kesenangan adalah tujuan pokok didalam kehidupan manusia ini. Kesenangan akan dapat membawa kebahagiaan dan seterusnya.

Kita tidak bisa menafikan bahwa kemajuan ekonomi berupa meningkatkan pendapatan mnusia akan meningkatkan tingkat kehidupan dan akan memberi pengaruh terhadap gaya hidup (life style). Kekayaaan harta akan memberikan kesejahteraan dan kebahagian bagi seseorang tergantung orang tersebut bagaimana menggunakannya. Itu bila menyangkut individu. Didalam Agama, terutama Islam tidak dilarang untuk kaya asalkan kekayaan itu diperoleh dengan cara yang legal, halal dan tdk mendhalimi sesama.

Dalam kontek bernegara, kekayaan alam yang berlimpah dari hasil bumi dan lain sebagainya telah diatur didalam undang-undang, yaitu digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama, untuk kepentingan rakyat (amanah UUD ’45). Pada situasi sekarang ini yang terjadi kekayaan negara, oleh penyelenggara negara digunakan untuk di selewengkan dgn cara dikorupsi, dan membangun fasilitas hidup megah dan mewah untuk kepentingan mareka, sementara rakyat yang tidak mendapatkan akses, tidak punya kesempatan menikmatinya dan bahkan mareka banyak yang ‘terdhalimi’. Fasilitas-fasilitas publik yang dibutuhkan seperti jalan dan jembatan dan lain sebagainya tidak ada bahkan yang telah ada mengalami kerusakan tanpa ada perbaikan dengan alasan tidak ada dana dan lain sebagainya. Kehidupan sosial mareka berjalan seperti tanpa kemudi dan arahan, sementara sekelilingnya ada yang hidup mewah dengan hasil korupsi.

Disinilah kita sebagai rakyat menentang setiap kemegahan dan kemewalahan yang ditampilkan oleh wakil-wakil rakyat dan penyelenggara negara untuk mengetuk hati mareka agar mareka sadar apa yang mareka sedang lakoni. Karena apabila hal ini tidak kita lakukan maka kita yakin negara yang bernama Indonesia ini bukan lagi berkedaulatan rakyat akan tetapi berkedaulatan penyelenggaraan negara dan kroni-kroninya, artinya telah terjadi pengkhianatan terhadap undang-undang dasar negara. Kita prihatin dengan budaya hedonis penyelenggara negara ini. Karena itu kita menulis ini.

Jakarta, 20 Januari 2012

Zulaidin Mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s