Cinta dan Pengurbanan

Cinta ! Kata kata ini hampir setiap saat kita dengar, lihat (baca) dan rasakan hadir dalam kehidupan kita. Kata Aku Cinta Padamu (I love you) demikian populer di kalangan remaja, muda-mudi kita dari dulu sampai sekarang ini. Tidak pernah basi. Ungkapan kata-kata cintapun dapat berwujud dalam berbagai bentuk, apakah dalam bentuk setangkai bunga mawar, sebuah kalung permata dan lain sebagainya. Bagi kita yang sudah tua, barangkali kata-kata itu sangat membekas di hati diwaktu masa-masa remaja dulu sampai sekarang. Seandainyapun kita tidak pernah mengucapkan kata-kata itu dengan mulut dan lidah kita, akan tetapi kehadirannya dalam diri kita sangat terasa dan membekas. Ya..bekas cinta, yang sangat dirasakan oleh hati sang pecinta. Ada bekas berupa kenangan manis yang takkan pernah terlupa. Ada bekas cinta yang biasa-biasa saja. Ada bekas cinta luka cinta yang mendalam yang membuat si pecinta menderita, nestapa dan bahkan putus asa. Cerita tentang cinta adalah cerita tentang kehidupan manusia di segala zaman. Cerita yang telah banyak mengilhami sastrawan, novelis, penulis cerita film, buku dan lain sebagainya. Dan sebenarnya kehadiran cinta dalam hidup manusia, sejatinya adalah kehadiran Zat Yang Maha Memberi Kasih Sayang, Allah SWT untuk menuntun kehidupan hamba-hambaNya agar selalu mengikuti jalanNya.

Manusia sebagai makhluk yang mulia dalam penciptaannya di anugerahi akal budi dan qalbu (hati) yang fittrah (suci) untuk saling mencintai. Rasa cinta yang dianugerahkan Ilahi kepada seorang Ibu kepada anaknya wujud dari rasa cinta yang suci. Cerita perjalanan cinta suci manusia dari kejadian manusia itu sendiri, yaitu ketika pertemuan antara sperma dari si Ayah dan ovum dari si Ibu yang sedang memadu kasih. Wujud cinta yang bagaimanakah yang akan mareka bentuk dari pertemuan itu, apakah wujud dari nafsu yang mengelora tanpa kendali ataukah wujud sebuah cinta yang indah yang lahir dari Roh Illahi Rabbi?!. Sang Maha Pencipta menuntun mareka di jalanNya, agar kelak si anak manusia yang dilahirkan menjadi manusia pencinta yang suci. Pencinta yang suci pencinta yang mendahulukan cinta kepada Tuhannya dari pada cinta kepada segala makhluk ciptaanNya. Pencinta yang suci pencinta yang menghadirkan cinta kasih sayang Rabbnya diatas cinta kepada segala benda atau materi. Roh yang suci dari calon manusia dititipkan Ilahi Rabbi di kandungan Ibunya. Dipelihara oleh Malaikat makhluk suci, menerima makanan dari tali ari sang Ibu dari makanan yang suci sampai lahir kebumi sebagai bayi yang suci. Kemudian kepada orang tuanya (Ayah-Ibu) terutama si Ibu dititipkan cinta dan rasa kasih sayang yang suci kepada sang Anak.

Dalam perjalanan hidup manusia rasa kasih sayang manusia kepada sang anak yang suci itu, tidak jarang melebihi rasa cinta dan kasih sayangnya kepada Sang Khaliknya. Karena rasa cintanya kepada buah hatinya, tidak jarang manusia rela memperhamba dirinya kepada materi. Karena cintanya kepada si anak tidak jarang manusia bekerja keras mengumpulkan harta dan merebut kekuasaan dan kemudian mewarisinya kepada si anak. Karena cinta kepada si anak manusia rela melakukan segala cara untuk dapat memberikan ’mainan’ yang menyenangkan bagi sang kekasih hatinya. Cinta kepada si Anak telah banyak memalingkan cinta manusia kepada Sang Khaliknya. Karena si Anak, manusia melalaikan mengingat Sang Khaliknya pada ketetapan lima waktu. Karena Sang anak manusia rela tidak memberikan sedekah dan menyantuni yatim piatu. Karena Sang anak manusia banyak yang menyimpang dan berlaku syirik (politeisme). Karena sang anak bahkan manusia rela meninggalkan keyakinan dan agama yang mengaku Allah Yang Satu. Nauzubillahi min zalik!.

Oleh karena demikian banyaknya ’kesesatan’ yang dapat ditimbulkan oleh karena cinta manusia yang berlebihan kepada anaknya dan cinta manusia kepada sesamanya, maka Allah SWT pun ingin menguji manusia. Dan ujian itu jatuh pada Nabi Ibrahim AS sebagai ’Bapak Para Nabi’ dengan anaknya Ismail AS yang juga sebagai penazas Ka’bah. Cinta Nabi Ibrahim AS diuji, antara cintanya kepada Allah yang sudah terpateri dan suci dengan cinta dan kasih sayang kepada anak si buah hati tersayang. Ujian itu datang lewat perintah dalam mimpinya Nabi Ibrahim AS untuk meng’qurban’kan Nabi Ismail AS sebagai bentuk kepatuhannya yang ikhlas kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim AS pun bermusyarah dengan Nabi Ismail AS tentang isi wahyu mimpinya itu. Ketaatan dan cintanya yang tulus ikhlas kepada Allah SWT telah membawa Nabi Ibrahim dan Ismail AS lulus dari ujian dengan menggantikan pengorbanan kedua Nabi yang suci itu oleh Allah SWT dengan seekor Qibas.

Qurban adalah pengurbanan semua cinta manusia kepada segala sesuatu yang memalingkan hati manusia dari cintanya yang suci. Qurban adalah untuk mengikhlaskan dan memurnikan cinta yang suci hanya semata kepada Allah SWT, Sang Khalik, Sang Pencipta. Wujud dari cinta yang suci inilah yang seharusnya berkembang dan menyebar keseluruh alam semesta raya ini menjadi bentuk-bentuk ibadah dalam pengertian yang luas dari hamba-hambaNya. InsyaAllah! Selamat menyambut ’Idul Adha 1431 Hijriah!

Jakarta, 15 November 2010

By: Zulaidin Mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s