MEMPERINGATI MAULID NABI (2)

Becermin Pada Khadijah (Bagian 2. Penutup)

Seperti yang banyak di khawatirkan wanita setelah bersuami, yaitu kekhawatiran tidak bisa punya anak apalagi dengan umurnya yang sudah mencapai 40 tahun. Dua tahun menikah dengan Rasul belum ada tanda-tanda akan melahirkan, walaupun dua pernikahannya sebelumnya sudah memberikan tiga orang anak. Hanya keyakinan pada Tuhanya yang menjadikan Khadijah sabar dan penuh dengan ketenangan. Akhirnya Allah menjawab kekhawatiran Khadijah dengan memberikannya anak yang kemudian oleh Rasul memberikan nama Qasim,Abdullah, Zainab, Ummu Kultsum dan terakhir Fatimah. Qasim dan Abdullah kemudian meninggal. Tinggal hanya anak perempuan. Kematian anak laki-laki meninggalkan duka yang mendalam dalam diri Rasul dan lebih lagi pada Khadijah yang sangat sayang pada anak-anaknya itu.

Untuk membahagiakan Rasulullah Khadijah akhirnya membeli seorang budak laki-laki bernama Zaid bin Haritsah yang dibawa dari negeri syam oleh kafilah dagang. Selain itu mengambil Ali bin Abu Thalib, anak pamannya Nabi untuk dibesarkannya. Rumah tangga Rasul mengambil alih untuk membesarkan Ali dari tangan Abu Thalib karena  dalam situasi ekonomi yang sulit yang melanda Makkah pada masa itu. Kehidupan rumah tangga sebagai isteri dan membesarkan putra-putrinya menjadikan Khadijah tulang punggung rumah tangga bagi Rasulullah dalam perjuangan menegakkan agama Allah. Dirumah tangganya tidak hanya membesarkan anak-anaknya, akan tetapi juga membesarkan anak angkatnya seperti membesarkan anak-anaknya sendiri. Seperti diketahui akhirnya Ali bin Abu Thalib dikawinkan oleh keluarga ini dengan putri bungsunya Fatimah Azzahra.

Menurut sejarahnya, Allah pun menghormati Khadijah. Pernah suatu ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW ketika di Gua Hira’ dan berkata, “Wahai Muhammad, sebentar lagi Khadijah akan datang membawakan makanan dan minuman untukmu. Kalau ia datang, sampaikan kepadanya salam dari Allah dan dariku. Rasulullahpun menyampaikannya. Khadijah menjawab, “Allahlah Pemelihara kedamaian dan sumber segala damai. Salamku untuk Jibril”. (cerita ini di kutip dari The True Love Story of Muhammad oleh Abdul Mun’im Muhammad). Dan menurut riwayat yang lain, kecintaan Rasulullah SAW kepada Khadijah sepeninggalnya sempat membuat isteri beliau yang lain Aisyah AS merasa cemburu,  sebagai isteri yang baik,  Aisyah menunjukkan sifat normal sebagai seorang wanita yang ingin dicintai sepenuhnya , tak ingin dibagi oleh Rasul, dengan terus mengenangnya setelah Khadijah meninggal.

Kehidupan rumah tanggal Rasul dengan Khadijah ini yang ingin kita sorot di peringatan Maulid Nabi kali ini. Dimana ditengah kehidupan dewasa ini, sosok wanita telah banyak menduduki berbagai profesi di bidang keahliannya masing-masing. Tidak hanya sebagai seorang pelaku bisnis (pebisnis), pengusaha, wirastawati, interprenur dengan berbagai jenis usahanya, juga telah mengisi jabatan-jabatan penting di birokrasi pemerintahan, lembaga dan swasta. Disamping menyandang berbagai jabatan tersebut, wanita dengan sifat khasnya (kodrati) juga harus menjadi sosok isteri dan  ibu rumah tangga bagi suami dan anak-anaknya yang harus mendapatkan pendidikan dan perhatian kasih sayang yang baik, agar dapat menghasilkan generasi yang cerdas, sehat dan mulia bersama suami tercintanya. Adakala profesi ibu rumah tangga harus ditanggungnya seorang diri sebagai singgle parent dalam membesarkan putra-putrinya karena suami pasangan hidupnya telah berpulang terlebih  dahulu, sementara mareka sendiri belum atau tidak siap menghadapinya. Beban yang ditanggung  seorang wanita ibu rumah tangga merangkap Kepala Keluarga dengan fungsinya itu, semakin bertambah dan kompleks.

Dikatakan makin bertambah dan komplek adalah,  karena wanita sebagai seorang isteri dari seorang suami yang harus dijalani dengan suka dukanya bila kehidupan rumah tangga tidak harmoni, sebagai seorang Ibu bagi anak-anaknya yang paling dekat/sering dirumah tangga dengan segala macam problem masalah putra-putrinya dan sebagai seorang pribadi yang harus berkiprah dalam kehidupan sosialnya dengan segala jabatan dan profesi yang disandangnya, tak jarang jabatan dan profesi ini dapat memberikan godaan-godaan tuntutan yang lebih besar ketika mengaktualisasikan diri dalam pergaulan bisnis dan gaya hidup (life style) seiring dengan tuntutan  peningkatan karir dan lain sebagainya. Problem bermunculan bagaimana membagi waktu antara karir/pekerjaan, suami, keluarga (anak-anak) dan lain sebagainya. Sebagian wanita ada yang memilih menjadi wanita karir dengan menyenyampingkan untuk menunda berkeluarga dan punya anak, dan ada yang sebaliknya tidak sedikit berhenti berkarir setelah bersuami dan punya anak. Masalahnya semua terpulang kepada pribadi wanita itu sendiri, bagaimana ia mampu berprofesi dan berkarir akan tetapi juga tidak melepaskan tanggung jawab membesarkan generasi muda (putra-putrinya) dengan segenap kasih sayang dari seorang Ibu yang baik, sebagaimana dicontohkan oleh seorang wanita pengusaha seperti Khadijah, walau zaman telah berubah.

Demikian banyak contoh keteladanan oleh wanita yang ditunjukkan hari ini yang tidak mendidik, yang ditunjukkan dari kenyataan, bahwa banyak di perhamba oleh godaan konsumerisme, materiasme dari gaya hidup hedonis, tidak memberikan ruang untuk berkembangnya nilai moral generasi muda dengan baik. Ketika kehidupan dari seorang Ibu ‘terseret’ dalam arus pusaran yang kuat itu, ia mempertaruhkan kehidupan rumah tangga yang dibangun bersama suami tercintanya sebagai Bainati Jannati (Rumahku Syurgaku).   Marilah kita bercermin pada  kehidupan Khadijah dengan profesi pengusahanya ia mampu membangun karakter yang ulet, tabah, tahan ujian sekaligus wanita yang lembut dalam membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah bersama Rasulullah SAW dan anak-anaknya. Tidak hanya itu tapi mampu memberikan kontribusi maksimal bagi kelangsungan nilai-nilai ajaran Islam sampai sekarang ini bahkan sampai akhir zaman. Wallahu’alam bissawab!

Jakarta,  Februari 2012 (12 Rabiul Awal  1434 H)

Zulaidin Mas

(Catatan : Ditengah kasus-kasus yang membelit kaum hawa sekarang ini  tulisan ini, kiranya dapat memberi sedikit manfaat bagi wanita Muslimah yang sedang berkarir sekaligus sebagai Ibu bagi putra-putri yang disayanginya untuk selalu menjaga martabat diri, keluarga dan masayarakatnya. Karena, ditangan wanitu (Ibu Rumah Tangga) pondasi sebuah bangsa dapat terbangun dengan kokoh).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s