Radiasi Nuklir dan Ancaman Terhadap Kehidupan

Ditengah semakin  langkanya energi yang berasal dari bahan bakar fosil (batubara dan minyak bumi), masyarakat  dunia terutama  di negara-negara maju telah dapat memanfaatkan  energi  yang berasal  dari hasil pembelahan inti atom (nuclei=inti) untuk pembangkit energi  listrik dan keperluan lainnya. Menurut beberapa pakar nuklir, biaya produksi energi nuklir yang dihasilkan memang lebih murah, akan tetapi ternyata energi nuklir dapat menimbulkan dampak  yang luas bagi kehidupan ummat manusia  dari bahaya radiasi nulir yang dihasilkannya apabila terjadi kebocoran pada reaktor.

Bencana gempa pada skala 9,0 SR dan terjadinya stunami di Jepang telah menimbulkan kembali trauma masyarakat dunia terhadap dampak dari kebocoran reaktor nuklir seperti yang terjadi pada peristiwa kebocoran reaktor nuklir Chernobyl Ukraina pada April 1986 yang merupakan peristiwa kebocoran nuklir yang terburuk dalam sejarah. Begitu pun setelah kejadian itu, tidak menyurutkan keinginan dari negara maju dan berkembang untuk membangun reaktor nuklir mareka dengan alasan tujuan damai, yaitu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri mareka untuk pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masayarakatnya. 

Gempa dan stunami yang menghamtam Jepang pada tanggal 11 Maret 2011 yang lalu kembali bayangan kekhawatiran kebocoran reaktor nuklir nomor satu yang dilaporkan sehari setelah kejadian tersebut dari empat reaktor nuklir di Fukushima Jepang. Reaktor nomor 4 terbakar beberapa hari kemudian, yang menyebabkan tingkat radiasi meningkat diatas rata-rata, bahkan kota Tokyo sudah terdeteksi radiasi tingkat rendah yang menyebabkan tingkat bahaya makin bertambah. Dari 6 reaktor yang ada di Fukushima, ketika gempa terjadi 3 sedang beroperasi, sedangkan yang terbakar yang tidak beroperasi. Akibat gempa juga dilaporkan beberapa reaktor tersebut sudah mengalami kerusakan. Sampai saat verita ini di rilis angka resmi kurang lebih 12000 korban dari gempa dan stunami yang terjadi kali ini di Jepang.

Sekilas  Tentang Energi Nuklir

Penellitian energi nuklir sebenarnya telah di mulai pada tahun 1896 ketika Henri Becquerel menemukan gejala fosforesensi yaitu pemancaran kembali sinar oleh molekul yang telah menyerap energi sinar dalam waktu yang relatif lebih lama (10-4 detik) pada unsur Uranium disebut dengan radioaktifitas. Bersama Piere Curie dan Marie Curie, mareka mulai meneliti gejala ini dan berhasil mengisolasi unsur Radium  (simbol Ra Nomor Atom 88 dalam daftar periodik) yang sangat radioaktif. Mereka menemukan bahwa material radioaktif memproduksi gelombang yang intens, yang mereka namai dengan alfa, beta, dan gamma. Jenis-jenis radiasi yang mereka temukan mampu menembus berbagai material dan semuanya dapat menyebabkan kerusakan.

Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Pembelahan inti menjadi bagian-bagian yang hampir setara, dan melepaskan energi dan neutron dalam prosesnya yang disebut fisi nuklir.

 Jika neutron yang digunakan dalam reaksi fisi dapat dihambat, misalnya dengan Penyerap neutron, dan neutron tersebut masih menjadikan massa material nuklir berstatus kritis, maka reaksi fisi dapat dikendalikan. Hal inilah yang membuat reaktor nuklir dibangun. Neutron yang bergerak cepat tidak boleh menabrak inti atom, mereka harus diperlambat, umumnya dengan menabrakkan neutron dengan inti dari pengendali neutron sebelum akhirnya mereka bisa dengan mudah ditangkap. Saat ini, metode seperti ini umum digunakan untuk menghasilkan listrik. Tahun 1945 pasukan sekutu Amerika Serikat, Inggris dan Kanada bekerjasama dalam Manhattan Project, mengembangkan senjata fisi bertingkat yang digunakan untuk melawan Jepang. Selama proyek tersebut, reaktor fisi pertama dikembangkan, meski awalnya digunakan hanya untuk pembuatan senjata dan bukan untuk menghasilkan listrik untuk masyarakat.

Amerika Serikat meledakkan senjata nuklir pertama dalam sebuah percobaan dengan nama “Trinity“, dekat Alamogordo, New Mexico, pada tanggal 16 Juli 1945. Percobaan ini untuk menguji cara peledakkan nuklir. Bom uranium, Little Boy, diledakkan di kota Hiroshima, Jepang, pada tanggal 6 Agustus 1945, diikuti dengan peledakan bom plutonium Fat Mandi Nagasaki. Dengan segera ledakkan itu menghentikan Perang Dunia II. Setelah itu terjadilah perlombaan senjata nuklir. Empat tahun kemudian, pada 29 Agustus 1949, Uni Soviet meledakkan senjata fisi nuklir pertamanya. Inggris mengikuti pada tanggal 2 Oktober 1952, Prancis pada 13 Februari 1960, dan Cina pada 16 Oktober 1964.

Energi nuklir adalah tipe teknologi nuklir yang melibatkan penggunaan tekendali dari reaksi fisi nuklir untuk melepaskan energi, termasuk propulsi, panas, dan pembangkitan energi listrik. Energi nuklir diproduksi oleh reaksi nuklir terkendali yang menciptakan panas yang lalu digunakan untuk memanaskan air, memproduksi uap, dan mengendalikan turbin uap. Turbin ini digunakan untuk menghasilkan energi listrik dan/atau melakukan pekerjaan mekanis.

Reaktor nuklir adalah suatu tempat atau perangkat yang digunakan untuk membuat, mengatur, dan menjaga kesinambungan reaksi nuklir berantai pada laju yang tetap. Berbeda dengan bom nuklir, yang reaksi berantainya terjadi pada orde pecahan detik dan tidak terkontrol. Reaktor nuklir digunakan untuk banyak tujuan. Saat ini, reaktor nuklir paling banyak digunakan untuk membangkitkan listrik.

Bahaya Radiasi Nuklir

Secara alami, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk melindungi diri dari kerusakan sel akibat radiasi maupun pejanan zat kimia berbahaya lainnya. Namun seperti dikutip dari Foxnews, Minggu (13/3/2011), radiasi pada tingkatan tertentu tidak bisa ditoleransi oleh tubuh

dengan mekanisme tersebut.

Editor kesehatan dari Foxnews Health, Dr Manny Alvarez mengatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi dampak radiasi nuklir. Ketiganya meliputi total radiasi yang dipejankan, seberapa dekat dengan sumber radiasi dan yang terakhir adalah seberapa lama korban terpejan oleh radiasi.

Ketiga faktor tersebut akan menentukan dampak apa yang akan dirasakan para korban. Radiasi yang tinggi bisa langsung memicu dampak sesaat yang langsung bisa diketahui, sementara radiasi yang tidak disadari bisa memicu dampak jangka panjang yang biasanya malah lebih berbahaya.

Dampak sesaat atau jangka pendek akibat radiasi tinggi di sekitar reaktor nuklir antara lain sebagai berikut.

  1. Mual muntah
  2. Diare
  3. Sakit kepala
  4. Demam.

Sementara itu, dampak yang baru muncul setelah terpapar radiasi nuklir selama beberapa hari di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Pusing, mata berkunang-kunang
  2. Disorientasi atau bingung menentukan arah
  3. Lemah, letih dan tampak lesu
  4. Kerontokan rambut dan kebotakan
  5. Muntah darah atau berak darah
  6. Tekanan darah rendah
  7. Luka susah sembuh.

Dampak kronis alias jangka panjang dari radiasi nuklir umumnya justru dipicu oleh tingkat radiasi yang rendah sehingga tidak disadari dan tidak diantisipasi hingga bertahun-tahun. Beberapa dampak mematikan akibat paparan radiasi nuklir jangka panjang antara lain sebagai berikut.

  1. Kanker
  2. Penuaan dini
  3. Gangguan sistem saraf dan reproduksi
  4. Mutasi genetik.

Pembangunan energi nuklir bukan semata-mata problematik, karena dia menjadi kebutuhan pihak industri, melainkan juga yang lebih penting adalah resiko dari ”kebocoran” proyek energi nuklir tersebut terhadap kehidupan lingkungan dan manusia. Sebab di era modern, semakin maju pembangunan teknologi, maka semakin tinggi tingkat resiko yang akan dihadapi oleh masyarakat. Maka jika masyarakat tidak memiliki – meminjam istilah Ulrich Beck (1992) – ideologi masyarakat beresiko, maka ini jelas akan memiliki ancaman dan dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat jika terjadi kebocoran atau kesalahan dalam mengoperasional proyek nuklir ini terhadap kehidupan  manusia.

Sebagai sebuah contoh nyata adalah kecelakaan Chernobyl yang terjadi pada 26 April 1986 akibat kesalahan manusia dalam mengoperasionalisasikan pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut. Dampak yang ditimbulkan dari peristiwa itu adalah ledakan hebat yang menghasilkan kontaminasi radioaktif di wilayah sekitarnya seperti Rusia, Eropa Barat, Eropa Timur, Eropa Utara and Timur Laut Amerika, sebagian besar Ukraina dan Belarusia. Setidaknya menurut data EAIA dan WHO (2005) menyebutkan mereka yang korban meninggal sebanyak 56 orang secara langsung (47 pekerja dan 9 anak yang terkena kanker tiroid), dan diperkirakan 9000 orang terkena kanker tiroid. Sementara warga yang dievakuasi berjumlah 336,000 orang. Sehingga setelah peristiwa itu terjadi, kota Prypiat menjadi kota hantu yang mati bertahun-tahun (Film Dokumenter). 

Dari : Berbagai sumber

Satu pemikiran pada “Radiasi Nuklir dan Ancaman Terhadap Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s