SI Milikidi, BBM, Sumo & Sumi

oli-tua-1a-reza[1]

Sebuah lagu lawas tahun 70-an yang lucu dan jenaka berjudul si Djago Mogok yang dinyanyikan Titik Sandhora masih enak terdengar sekarang ini disaat-saat Aku sedang nelangsa memikirkan kenaikan harga BBM. Bagi remaja tahun 70-an seperti Aku ini, lagu tersebut rasanya akrab terdengar di kuping yang selalu diputar lewat RRI maupun TVRI dalam acara Aneka Ria Safarinya. Cuplikan syair lagu tersebut Aku masih ingat seperti ini :

Kawanku punya mobil mewah

Mengajakku pergi keliling kota

Dan tiba-tiba mogok di jalan

Pulangnya jalan kaki berdua

Si Djago mogok namanya kuberikan

Keluar bengkel sebulan masuk lagi

Kata kawanku jangan itu dong namanya

Dengan alas an ayahnya nanti marah

Mogok lagi, mogok lagi..apaan?

 Sekali lagi kudiajak olehnya

Dikala liburan keluar kota

Dan kenderaan mobil yang itu lagi

Kutelah menyangka mogok lagi

 Dorong yok dorong yok dorong..

 Suatu hari kupergi kerumahnya

Kubawa kapur untuk penulis

Lalu kutulis dipintu mobil itu

Mobilnya bernama si Djago mogok

 Dorong yok dorong yok dorong..

Sambil mendengarkan lagu  ‘jenaka’ tersebut tiba-tiba Aku menerawang. Dari pada harus dorong yok dorong yok seperti Mbak Titik Sandhora itu , mendingan mobilku yang sering kumat penyaklitnya itu di simpan saja atau di jual ya?!.Tapi kalau disimpan untuk apa beli mobil, sedangkan kalau di jual nanti orang lain yang kena mogoknya sama saja, kasian jadinya. Apalagi sebentar lagi mogoknya jadi kuadrat karena tak mampu beli premium, karena tak sanggup bayar lagi. Wuih jangan sampai terjadi! Soalnya  kalau kehabisan bensin susah di sini. Disamping mahal harganya tak terjangkau kantongku yang pas-pasan, juga bensinnya  jarang ada. Baru saja issue mau naik harga,  eh BBMnya ikut  menghilang kemana,..tahu tuh ditimbun  atau di seludupkan..wallahu’alam! Disini terkenal banyak maling nya! Jadi bagaimana dong dengan Si Milikidiku ini?  Bingunggggg!$*$*$*$J Apakah sudah saatnya dia kukirim ke Bantar Gebang, biar jadi sampah industri kota Jakarta disana. Tapi Aku bingung juga sedangkan disana TPAnya sampah domestik Jakarta, apakah diterima sampah mobil tua Si Milikidi merek Toyota Aku ini? Apalagi kabar terakhir yang Aku dengar dari temanku, disana sudah tutup, tak terima sampah lagi. Wah berabe ini mau dibuang kemana? Oya, terakhir Aku dengar ada Eksportir Besar yang sering impor sampah besi/baja Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dalam bentuk steel scrap basah/berminyak dari negara maju masuk ke Indonesia. Nach dari pada mareka harus repot-repot dengan barang illegal dari negara lain, bagus yang sudah ada disini (sudah diimport lebih dulu) saja yang dipreteli-dicincang-, lebih efisien dan ekonomis untuk dijadikan barang daur ulang.

Revolusi industri dimulai kira-kira sekitar tahun 1760-1830 Masehi dengan ditemukannya mesin yang mengandalkan pemanfaatan energi air (mesin uap) dan seterusnya berkembang berbagai mesin yg menggunakan bahan bakar energi fosil minyak (BBM). Sejak itu perusahaan2 pertambangan dunia menjelajah bumi ini untuk melakukan survai cadangan minyak yg terkandung didalam perut bumi ini diberbagai penjuru benua. Ditemukanlah wilayah-wialayah-bagian dari benua-benua- baik di darat maupun di laut yang kaya cadangan BBM. Sejak itu pula dimulai keserakahan untuk menguasai dan memperebutkan energi ini,  karena energi inilah yang bisa memakmurkan dan mensejahterakan ekonomi suatu bangsa dan negara.

Selepas Perang Dunia ke II negara-negara industri maju berlomba-lomba memproduksi berbagai jenis mesin yang mengkonsumsi energi ini. Dalam bidang transportasi darat laut dan udara untuk menghubungkan  jarak antara benua agar menjadi dekat dengan berbagai kenderaan, diantaranya mobil, kereta api, pesawat dan sebagainya.  Selain itu juga digunakan untuk menghidupkan mesin-mesin pembangkit energi listrik sejenis Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), dan sebagainya dan untuk berbagai mesin-mesin industri, alat pertanian dan sebagainya. Berkembangnya industry dibidang transportasi dengan pesat, dibangunnnya infrastruktur jalan dan listrik menuntut kebutuhan energi ini makin meningkat dari tahun ke tahun. Sementara pertumbuhan produksi tidak seimbang dengan kebutuhan yang ada. Kebutuhan terbanyak dibidang transportasi, konsumsi energi ini luar biasa dan hal ini disebabkan belum ditemukannya energi pengganti yg sama menggantikan fungsi energi BBM ini..

Hukum ekonomi, meningkatnya permintaan dan kebutuhan, produksi BBM dr negara penghasil mulai menurun atau terjadi konflik kepentingan ekonomi dan politik, harga melonjak tajam di pasaran dunia. Negara-negara yang selama ini punya cadangan yang besar energi ini tetapi karena salah urus (telah tergadai kemandiriannya di bidang energi) seperti Indonessia akhirnya yang paling menderita. Cadangan energinya banyak tapi karena sudah melakukan kerjasama dengan pihak lain (kontrak karya) tidak bebas laig mengalokasikan energi terssbut untuk kepentingan masyarakatnya, tapi sudah ditentukan oleh pihak lain. Jadilah misalnya migas dan batubara yang dihasilkan Indonesia untuk menghidupkan industri dan ekonomi negeri matahari terbit Jepang,  China, dan seterusnya.Jadilah emas, tembaga, timah, bijih besi dan berbagai bahan mineral lainnya dari perut bumi Nusantara ini untuk menghidupi industri dan ekonomi negara AS, Australia dan lain sebagainya..Olala!

Akhirnya diperkirakan yang tersisa di negara kita adalah si Djago Mogok ini, sampah-sampah industri yang sudah tua, rongsokan,  mogok melulu dan kehabisan BBM .Lihatlah seberapa banyak jenis kenderaan-kenderaan  industri maju yg berseleweran disini mulai dari yang murah sampai yang termahal ada, bermacam-macam merknya. Bayangkan semua nantinya bakal jadi si Djago Mogok sebelum jadi besi tua, jadi barang rongsokan, sampah industri Jepang (sampah mobil Honda, Toyota, Suzuki, Nissan, Mitsubishi, dll), Amerika Serikat (sampah mobil Ford, Chevrolet, Chrysler, dll), Jerman (sampah mobil Mercedez, BMW, Audi, dll) Italia (sampah mobil Alfa Romeo, Ferrari, Lamborghini, dll), Perancis (sampah mobil Bugati, Citroen, Peugot, dll), Inggris (sampah mobil Bentley, Austin, Aston Martin, dll), China (sampah mobil Chery, Chang’an, dll), India (sampah mobil Tata ,dll),  Korea (sampah mobil Daweo, Hyundai, SsangYong,dll), dan Malaysia (dengan sampah mobil Protonnya).

Si Milikidi

Itulah sampah-sampah industri mobil yang ditemukan oleh sepasang pemulung Warga Negara Indonesia (WNI) bernama SUMI & SUMO yang memulung di sekitar komplek rumah mewah di kota-kota besar yang penuh sampah industri itu. Jauh didalam hati SUMI & SUMO ingin menemukan sampah mobil yangg ada merek chasis mesinnya MADE IN INDONESIA  asli (original) bukan yang palsu (kalo yg palsu, itu banyak). SUMI & SUMO berjanji dalam hati mareka kalau mareka mendapatkan sampah mobil MADE IN INDONESIA, mareka akan mempreteli, mengangkut membawa pulang dengan gerobak, mengoleksi di rumah gubuk yang mareka bangun diatas lahan kosong yang ada papan pengumuman “TANAH INI DALAM SENGKETA”, tidak akan di legonya di pasar loak, karena menurut mareka termasuk BARANG LANGKA.

Walaupun  profesi  SUMI & SUMO sebagai pemulung tapi mareka mempunyai semangat nasionalisme yang tinggi, buktinya setiap produk, tidak kecuali mobil yang ada  MADE IN INDONESIAnya, tapi mareka juga bertekad mengoleksi dan menyimpan barang-barang yang lainnya, kadang sampai kotak Indomie buatan Indonesia pun disimpan sekalian untuk tempat benda berharga mareka. Mareka tidak perduli ada harga atau tidak produk itu bila dijualnya. Tidak penting bagi mareka yang jelas ada kepuasan dan kebanggaan sendiri. Tidak seperti pasangan pemulung yang lain yang satu ‘komplek perumahan’ dengan mareka; yang dikoleksinya produk-produk bermerek luar negeri termasuk botol-botol  minuman, botol minyak wangi yang unik dan antik dan lain sebagainya.

Rasa nasionalisme yang tinggi itu pula setiap   SUMI & SUMO mendengar ada pertandingan sepakbola dimana kesebelasan TIMNAS bertanding melawan kesebelasan negara lain, mareka berdua sepakat singgah sebentar di warung/kios terdekat untuk menonton. Ketika Indonesia melawan Bahrain kemarin yang kalah 10-0 itu,  mareka sepanjang jalan pulang menyumpah-nyumpah dan memukul-mukul gerobak tua mareka itu sambil berteriak. “Bodoh..bodoh..bodoooooh..’’. Hampir berantam sama seorang tukang ojek, karena dikiranya ia dikatain bodoh. Selain itu setiap menjelang Agustusan mareka berdua tidak lupa mengikat kepala dengan lambang merah putih, mendorongkan gerobak yang penuh tiang bamboo dan bendera. Mareka merasa bagaikan seorang pahlawan pejuang yang baru pulang dari medan peperangan dengan semangat tinggi menawarkan tiang bamboo dan bendera masuk keluar gang dari satu RT ke RT lainnya. Ketika hari Agustusan tiba SUMO  dari pagi sudah bersiap memakai baju seragam veteran hadiah orang tuanya yang dipakai setahun sekali, lengkap dengan pangkat dan atributnya, diikuti SUMI berpakaian kebaya zaman revolusi, kemudian mareka keluar menuju lapangan kelurahannya untuk mengikuti acara peringatan 17 Agustusan. Kalau sudah memakai seragam seperti itu, tidak ada yang mengira SUMI & SUMO sebagai pasangan pemulung yang hidupnya luntang lantung lagi. Dilapangan kelurahan bersama masyarakat di sekitar RTnya, SUMI & SUMO menyanyikan lagu INDONESIA RAYA penuh khidmat dengan suara yang lantang dan menggelegar… “Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku…. Hiduplah tanahku, Hiduplah neg’riku, Bangsaku, Rakyatku  semuanya, Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya, Untuk Indonesia Raya..INDONESIA RAYA MERDEKA MERDEKA tanahku negriku yang kucinta..”

Apakah SUMI & SUMO terpengaruh dengan kenaikan harga BBM? Mareka tidak dapat menjawabnya ketika seorang gadis cantik dan pria tampan menenteng kamera sebuah stasiun TV Swasta datang menghampiri mareka untuk mewawancarai. Bingunggggg!$*$*$*$J ..ngung ngung ngung, bagaimana ya mareka harus menjawabnya? Dikatakan ada pengaruhnya, mareka tak punya mobil yang mengkonsumsi BBM (seperti mobil si Milikidi Aku), sehari-hari mareka jalan kaki entah berapa jarak yang mareka sudah tempuh, tidak pernah diperhitungkan berapa liter per km dan berapa harganya, lagi pula bukankah mareka seperti sebelumnya akan mendapat kompensasi  dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang sekarang sudah bertukar nama menjadi Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Walaupun sebenarnya mareka berdua agak keberatan dengan bantuan tersebut, tapi karena pemerintah mengalokasikannya apa mau dikata. Keberatan mareka karena mareka harus antri mengambilnya, bisa memakan waktu sehari, padahal besarnya tak seberapa, lebih besar pendapatan memulung sehari mareka. Sudah itu lagi pengalaman mareka sebelumnya, ada yang menyebabkan mareka seolah harus ’membalas budi’. Soal balas membalas budi ini yang sangat tidak mareka inginkan terjadi, karena mareka ingin bebas menggunakan hak-haknya sebagai warga negara, walaupun status mareka sangat lemah, yaitu sebagai pasangan pemulung. Mareka lebih senang sebenarnya ada yang memperhatikan kehidupan sehari-hari, berupa usaha memulung dan memberikan modal untuk mendaur ulang sampah-sampah bekas pakai yang tidak berharga lagi bagi sebagian masyarakat itu. Bagi mareka sampah-sampah domestik dan industri itu sangat berharga dalam menyambung hidup mareka, lebih lagi sangat membanggakan mareka,  banyak produk sampah itu yang bermerek MADE IN INDONESIA.

Jakarta, 19 Maret 2012

Zulaidin Mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s