NASIB SI UDIN PENYAPU JALAN (1)

Udara panas kota Jakarta siang itu jam 10.00 pagi membuat Udin beristirahat sejenak dari pekerjaannya menyapu jalan-jalan di Ibukota yang penuh debu. “Sudah hari ke-7 puasa ramadhan kali ini, alhamdulillah Aku masih bisa bertahan..” Udin bergumam dalam hati, walaupun perutnya mulai terasa perih dan kerongkongannya mulai kering minta diisi. Tadi pagi waktu sahur ia hampir tak terbangun untuk makan sahur, untung ada kucing tetangga yang betengkar yang membuat ia dapat menikmati sahur dengan makanan yang seadanya. Berprofesi sebagai penyapu jalan di  ibukota sebenarnya bukanlah kemauannya. Tapi nasib telah menentukan setelah sekian puluh kali ia keluar masuk gedung perkantoran utk melamar pekerjaan menjadi Office Boy dengan ijazah SMAnya itu. Tidak ada satupun yang memanggilnya. Cuma sebuah bahasa basa basi yang sering didengar..”sekarang kami masih cukup karyawan OB, nanti kalau kami butuh akan kami panggil boleh ditinggalkan alamatnya disini..”.

Suatu ketika dulu dia pernah berpikir,..” apakah karena wajahku yang tidak seperti pemain sinetron OB itu yang membuat perkantoran itu tidak bersahabat denganku..” Sampai suatu siang ketika ia kelelahan mengitari sudut kota Jakarta mencari kerja, ia singgah disebuah mesjid di daerah kebayoran. Mesjid itu sudah menjadi langganannya untuk sholat dhuhur dan sekaligus beristirahat sejenak dari kelelahan. Seorang Bapak dengan pakaian seragam Dinas Pemda menawarkannya untuk bekerja sebagai penyapu jalan.

“Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang menawarkan pekerjaan, walaupun sebagai penyapu jalan tidak apa-apa, siapa tahu Allah mau membuka pintu rezeki kepadaku melalui jalan ini..” bisiknya dalam hati.

Dan kini pekerjaan itu sudah ditekuni hampir 2 tahun lamanya, sudah hampir separuh kota Jakarta disapunya. Tapi memang kota Jakarta ini terkenal banyak sampahnya di jalan yang dibuang oleh warga seenaknya ditambahkan produksi alami dari pohon-pohonan, jalan-jalan yang di sapu Udin tidak pernah benar-benar bersih. Suatu kali Udin sedang kelelahan menyapu, tiba-tiba dari dalam mobil Mercy terbaru dengan kecepatan sedang, ada benda bungkusan plastik terbang melayang dan jatuh disisi kaki Udin. Udin mengambil benda itu dan mencoba meneliti, apa ini sengaja dijatuhkan kepadanya mungkin si pemilik mobil kasian kepadanya. Tapi setengah menyumpah Udin harus menerima kenyataan bahwa bungkusan itu bungkusan sisa makanan restoran cepat saji. Lain kali si Udin karena menyapu agak ketengah jalan, hampir lewat disambar sebuah CRV yang melaju kencang. Ia pontang panting mencoba menyelamatkan diri dengan menjatuh diri arah keselokan, untung tangan dan kakinya tidak patah. Hanya tergores sedikit ditangan. Begitulah nasib Udin si penyapu jalan.

Pagi tadi dari rumah dia sudah meniatkan agar jalan yang menjadi tugasnya menyapu hari ini harus bersih sebelum jam 12.00 siang. Menurut berita yang dia dengar di sebuah stasiun TV tadi malam, hari ini ada kunjungan kehormatan seorang kepala negara tetangga ke Indonesia sekitar jam 14.00 dan akan melalui route jalan yang disapu Udin. Bossnya Udin juga telah menginstruksikan tadi pagi dalam rapat apel pagi biasa agar jalan tersebut harus bersih sebelum jam 12.00 siang. Hampir selesai pekerjaannya ketika beristirahat sejenak. Udin memilih berteduh disebuah pohon pelindung jalan yang rindang sambil menatap dengan matanya yang kosong arus lalulintas kenderaan yang mengalami kemacetan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s