NASIB SI UDIN PENYAPU JALAN (2)

Sapu jalan

Udin sebenarnya bila diurut-urut ke silsilah garis keturunan orang tuanya termasuk garis keturunan pahlawan. Pada zaman revolusi dulu orang tuannya mempunyai banyak lahan garapan sawah ladang warisan dari kakeknya. Selama masa perjuangan kemerdekaan menurut cerita Ibunya- yang anak seorng Kiai didaerah Bekasi yang dikawini Ayahnya- banyak dijual untuk membiayai perjuangan kemerdekaan. Pangkat terakhir ayah Udin seperti yang tertera didalam surat penghargaan veteran orang tuanya adalah sersan mayor. Ketika orang tuanya tertembak dalam suatu pertempuran dengan sekutu pada waktu itu Udin baru dilahirkan dan merupakan anak ke- 4 bersaudara. Kakaknya yang paling tua hanya bisa menikmati bangku kuliah 2 tahun, tapi karena menjadi aktivis kampus akhirnya diketahui menghilang tidak tahu rimbanya sampai sekarang ini. Kakaknya yang no.2 perempuan hanya bisa menyelesaikan pendidikan SMEA dan kemudian bekerja di sebuah konfeksi serta kawin dengan sesama karyawan konveksi, punya anak 7 orang. Krisis ekonomi tahun 96-97 telah menyebabkan perusahaan tempat kerjanya gulung tikar. Suami Kakaknya sempat stress masuk dan dirawat dirumah sakit daerah dan kemudian tak lama dipanggil Yang Maha Kuasa. Tak lama kemudian Kakaknya ikut menyusul, anak-anaknya akhirnya harus menempati Rumah Yatim Piatu disebuah Pasantren didaerah Jatiwaringin Bekasi. Kakaknya yang ke-3 laki-laki tidak jauh berubah nasibnya seperti dia, yaitu menjadi PNS kelas rendahan di sebuah kabupaten di Jawa Barat. Sudah hampir 10 tahun bekerja mengabdi, baru sekali ia mengalami kenaikan pangkat, karena tidak mau mengurusnya. Tidak seperti teman-temannya yang lain, mareka sangat aktif mengintip setiap peluang promosi jabatan dan kasak kusuk serta menjilat atasan tanpa malu-malu. Dalam hal itu Udin dan Abangnya itu boleh dibilang sangat tidak bisa diandalkan. Mareka mungkin masih ingat nasehat orang tuanya, terutama Ibunya waktu masih terbaring sakit sebelum menhembuskan napas terakhir berpesan,

“..anakku janganlah engkau meminta-minta jabatan apalagi engkau mengejarnya dengan berbagai cara, karena jabatan itu amanah yang harus engkau pertanggung jawabkan kelak..tapi jika mareka percaya kepadamu, engkau harus mampu memegang amanah dan memberikan yang terbaik ..” Nasehat ibunya itu persis apa yang tertulis dalam catatan-catatan kertas yang sudah kumal dari Ayahnya selama dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Udin menikmati kesederhanaannya itu. Ia  tidak banyak berharap macama-macam fasilitas dari pemerintah walau orang tuanya seorang veteran kemerdekaan. Pernah suatu ketika teman kerjanya yang mengetahui asal usulnya memberikan saran agar dengan surat keterangan veteran orang tuanya mendatangi kantor Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) di daerah Semanggi untuk meminta pekerjaan dikantor apalah biar lebih bergengsi sedikit. Namun ia menampiknya. Ia mengatakan kepada temannya, bahwa yang berjasa adalah Bapaknya, sedangkan dia tidak. Ia tidak mau memanfaatkan itu, khawatir ayah ibunya yang sudah almarhum itu tidak ridho dengan perbuatannya itu, dia malu pada dirinya sendiri menggunakan surat keterangan veteran orang tuanya untuk ‘mengemis’ minta pekerjaan. Didalam surat lamaran tentang keterangan tambahan, Udin juga tidak pernah menulis bahwa pekerjaan almarhum orang tuanya sebagai Veteran RI, kecuali sebuah kata yang akrab ditelinga masyarakat awam yaitu petani. Ada juga yang mengajaknya untuk bergabung dengan organisasi anak-anak veteran. Lebih tidak masuk akalnya lagi. Udin tetap Udin yang mempunyai keyakinan pada dirinya, bahwa dia tidak mau memanfaatkan kelebihan orang lain meskipun orang tuanya sendiri untuk kepentingan dirinya.

Setelah beristirahat sejenak menghilangkan  penat, Udin akhirnya meneruskan pekerjaan menyapu jalan lagi, kali ini tinggal menyisir sisi-sisi trotoar pejalan kaki. Debu dari tanah liat yang sudah mengering  banyak menumpuk. Udin kadang agak kesal, fenomena yang ditemuinya ini tidak sekali dua kali. Sudah menjadi tabiat kontraktor galian kabel di DKI ini, hasil kerjanya yang berceceran tanah disekitar galiannya, yang akhirnya menjadi pekerjaan ekstra dari Udin. Pernah beberapa kali ia meminta bantuan Dinas Pertamanan  dg mobil water canon untuk menyiram tanah liat bercampur debu itu. Tapi kali ini tidak ada yang melintas, terpaksalah dia yang harus membersihkannya. Masker untuk menutup mulut yang diandalkannya hanyalah handuk kecil yang dililitkan di lehernya yang digunakan untuk mengelap keringat. ….

Jakarta, 25 Agustus 2011

Zulaidin Mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s