Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (Bagian 1)

Daerah Wisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) Kabupaten Maros Sulawesi Selatan
Daerah Wisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) Kabupaten Maros Sulawesi Selatan

Ketika menikmati udara kota Makasar yang cerah pagi hari itu sekitar jam 10, tiba-tiba saja Aku teringat sebuah nama tempat rekreasi. Bantimurung sebuah nama yang akrab terdengar ditelinga. Hanya sekedar nama….ah, apalah arti sebuah nama?, kata William Skakespeare,  What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet (Apalah arti sebuah nama?Apapun sebutannya dari bunga mawar atau nama lain, wanginya akan tetap harum). Oh tidak, sastrawan legendaris dunia itu bisa salah, nama sangat penting bagi seseorang atau suatu tempat. Nama seseorang bagaikan syair lagu yang paling indah ditelinga orang itu bila orang memanggilnya dengan penuh kemesraan. Demikian juga sebuah tempat yang asing tadinya, menjadi demikian indah setelah mengenalnya. Tak heran bila ada pemimpin yang ingin berkunjung ke suatu daerah, ia sibuk menghapal nama-nama tokoh masyarakat di daerah itu dan ketika ia datang dan bertemu dengan mareka, Sang pemimpinpun memanggil nama-nama mareka..Aduhai betapa indah nama-nama itu terdengar oleh tokoh-tokoh masyarakat itu yang keluar dari mulut Sang pemimpin. Nama adalah ciri khas, identitas seseorang.
Demikian pentingnya nama sampai-sampai seseorang yang ingin tenar seperti artist ikut menambahi embel-embel pada namanya atau menggantikanya dengan nama lain yang lebih komersial.

Oleh karena itu, begitu Aku nanti menginjak kaki di lokasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Aku berusaha tahu apa arti dari nama itu. Bersama Nora- adik iparku- segera kami memutar haluan melaju tempat yang indah itu, menghabiskan waktu sebelum kembali ke Jakarta pukul 17.25. Kurang lebih dua jam pulang pergi, demikian Nora menginformasikan kepadaku. Jarak diperkirakan sekitar 60 km dari kota Makasar  atau sekitar 30 km dari Bandar Udara  Hasanuddin yang baru.

Dengan kecepatan sedang mobil kami meluncur ke tempat lokasi nama yang indah itu. Aku sudah tidak sabaran untuk melihat dan menikmati keindahan alam Kerajaan Kupu-kupu (The Kingdom of Butterfly) yang diberikan oleh Alfred Russel Wallace (1856-1857). Hampir semua species kupu-kupu ada disini atau sekitar 300 species (10.8%) dari jumlah species di Indonesia. Beberapa spesies unik dan dilindungi hanya terdapat di Sulsel, yaitu Troides helena Linne, Troides hypolitus Cramer, Troides haliphron Boisduval, Papilo adamantius, dan Cethosia myrana. Paling tidak  ada 20 spesies kupu-kupu yang dilindungi pemerintah dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) No 7 tahun 1999.

Secara administratif, kawasan Taman Nasional ini terletak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) pada kordinat 119° 34’ 17” – 119° 55’ 13” Bujur Timur dan antara 4° 42’ 49” – 5° 06’ 42” Lintang Selatan. Lokasi berbatas sebelah Utara dengan Kabupaten Pangkep, Barru dan Bone, sebelah Timur dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Bone, sebelah Selatan dengan Kabupaten Maros dan Sebelah Barat dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. Obyek wisata antara lain air terjun Bantimurung, Museum Nasional Kupu-kupu, Gua Batu dan Gua Mimpi dengan panjang lorong sampai 1500 m. Total luas areal Taman Nasional seluas ± 43.750 ha dan telah menjadi kawasan konservasi Taman Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 398/ Menhut- II/2004 tanggal 14 Oktober  tahun 2004.

Kedatangan kami disambut oleh sebuah  tulisan warna putih pada dinding bukit batu yang nampak jelas dari jauh TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG dan kemudian pintu gerbang taman hiasan patung KUPU-KUPU besar serta patung monyet menghadap kedalam. Udara cerah dan segar siang itu terasa sedikit lebih dingin dibandingkan dengan kondisi di Makasar.  Seorang pemandu wisata datang menghampiri kami menawarkan jasanya untuk mengantarkan kami selama berkunjung disana. Basri usia sekitar 29 tahun, masyarakat lokal sekitar yang sehari-hari mencari penghasilan dengan menemani para pengunjung dan juga menjual oleh-oleh khas gantungan kunci dari kupu-kupu, kumbang serta koleksi kupu-kupu khas Taman Nasional yang diawetkan. Membeli karcis masuk tidak perlu antri karena mungkin bukan hari libur (Sabtu), sehingga pengunjung tidak terlalu ramai. Petugas menjelaskan sekilas lokasi objek-objek wisata yang bisa kami nikmati dan menyediakan pemandu untuk menemani kami. Kami tidak tertarik tentang tawaran itu dan terus berjalan kearah air terjun.  Tapi anehnya Basri muncul di belakang dan terus mengikuti kami sampai kami pun membuka pembicaraan dengannya.

Aku menanyakan tentang nama Bantimurung kepada Basri, kenapa sih nama daerah ini disebut Bantimurung? Kenapa mesti ada murungnya, padahal disini orang mencari rekreasi atau dengan perkataan lain mencari keceriaan. Aku tidak tahu Basri mengetahui pasti asal usul kata Bantimurung, tapi masuk diakal juga ketika ia menjawab. Banti = Banting, sedangkan Murung tetap sama artinya, jadi siapa yang kesini berarti ia ingin membanting murung, membuang yang murung-murung atau yang sedih-sedih. Ah, Basri bisa saja! Konon kabarnya, Bantimurung berasal dari dua kata dalam bahasa Bugis halus. Dikatakan dalam suatu cerita rakyat setempat, bahwa air terjun tersebut ditemukan oleh Karaeng Simbang, seorang bangsawan setempat, bersama pengikutnya. Karena suara air terjun yang menderu-deru, Karaeng Simbang menamakan air terjun itu dengan cara menggabungkan dua kata “benti” yang berarti air dan “merrung” yang artinya bergemuruh. Seiring perkembangan jaman dan dialek bahasa setempat lama kelamaan menjadi Bantimurung.

Selain terletak di lembah bukit kapur/karts yang curam dengan vegetasi tropis yang subur sehingga selain memiliki air terjun yang spektakuler juga menjadi habitat yang ideal bagi berbagai jenis flora dan fauna. Jenis-jenis flora yang tumbuh pada habitat Karts antara lain Palanqium sp, Calophilum sp, Leea indica, Sapotaceae, Polyalthia insignis, Pangium edule, Aleurites moluccana,Celastroceae, Cinamomum sp, Leea aculata. Jenis-jenis yang tumbuh pada habitat hutan dataran rendah antara lain Vitex cofassus (Bitti), Palaquium obtusifofium (Nyato), Pterocarpus indicus (Cendrana), Ficus spp (Beringin), Sterquila foetida,Dracontomelon dao (Dao), Dracontomelon  galeniaserrata, Alleurites moluccana (Kemiri), Pyros celebica (Kayu hitam), Buchanania Arborescens, Antocepalus cadamba, Myristica sp, Kneam sp, dan Calophyllum inophyllum.  

Jenis fauna yang khas dan endemik, antara lain Ryticeros cassidix (Enggang Sulawesi), Peneloppides exahartus (Enggang Kerdil), Macrogofidia mussenbraecki (Musang Sulawesi), Kelelawar, Macaca Maura (Kera Sulawesi), Phalanger celebencis (Kuskus), Tarsius sp (Tarsius) dan lain-lain, serta berbagai jenis kupu-kupu yakni, Papiliio blumei. P.Pofites, P.Satapses, Troides halipron, T.Helena, T.Hypolites dan Graphium androcles. Selain itu terdapat jenis fauna yang endemik dalam gua sebagai penghuni gelap abadi seperti Bostrychus spp yaitu ikan dengan mata tereduksi bahkan mata buta, Eustra sp (Kumbang buta) dan  Rhaphidophora sp (Jangkrik gua). …(Bersambung ke Bagian 2)

Jakarta, 09 November 2010

By : Zulaidin Mas

Referensi: Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s