IMG_0860

Berada dijalan menuju air terjun sebelah kiri bukit dan pepohonan besar yang rindang terasa udara sejuk di cuaca siang yang cerah. Jalan dengan lebar sekitar 10 m, disebelah kiri terdapat sebuah Mushalla seolah terpahat dari dinding bukit batu. Untuk menuju ke Mushalla ini kita harus turun dari jalan sekitar 1 m. Sedangkan sebelah kanan jalan, pinggir jalan dibangun dinding beton tebal diberi tegel setinggi pangkal pinggang yang bisa digunakan untuk tempat duduk atau rilek. Terus dari sana menurun kebawah sekitar 20 m kita bisa melihat air sungai yang mengalir deras di sela-sela bebatuan besar. Kebetulan ketika kami berkunjung air sungainya cukup besar berwarna keruh, sehabis hujan di daerah hulu. Diseberang sungai kebawah lagi-dibawah pohon-pohon besar yang rindang-menjadi tempat rekresi keluarga dengan menggelar tikar dibawahnya. Suasana keluarga yang santai kita temui di daerah ini dan makin mengasyikkan dengan adanya sebuah kolam renang yang disenangi oleh remaja, anak-anak maupun orang tua. Jalan menuju keseberang sungai dihubungkan oleh jembatan dari batu karang alami.

Menikmati pemandangan alam dan suasana yang menyenangkan ini kami segera ingin mengabadikan beberapa foto disini. Keinginan kami ini ternyata segera dibaca oleh nalurinya Basri yang sudah terasah itu. Jepret..jepret beberapa kali dengan latar belakang air terjun. ”Makin agak ke pinggir pak agar air terjunnya terlihat lebih jelas” seru Basri sedikit agak keras melawan bunyi gemuruhnya air terjun. ”Apa?? Aku masih mau hidup, lho” teriakku tak mau kalah. Aku tidak bisa membayangkan dari tempat kami berfoto, sedkit meleset langsung terjun bebas terbawa bergulung-gulung oleh air terjun. Tapi Aku melihat, pengunjung anak remaja dan anak-anak cukup berani bermain di daerah ini. Aku tidak melihat adanya pengamanan khusus yang maemadai disini, bahkan pada tempat kami berfoto tidak ada cukup dinding beton yang membatasi. Aku melihat jam sebentar sekitar jam 11.00. Diujung jalan ada tangga untuk naik keatas. Basri menjelaskan bahwa tangga ini menuju ke gua batu dan gua mimpi dimana dapat melihat stalagtit dan stalagmit, kira-kira jaraknya setengah km. ”Kalau sudah kesini, hanya sampai disini, belum masuk ke gua tersebut sama juga seperti belum pernah kesini” celetuk Basri. Basri.. Basri, dari mana kamu belajar ilmu promosi yang ’memprovokasi’ naluri petualangan kami untuk masuk ke gua, tapi jauh di sudut hatiku berbisik, alam yang mengajarinya. Aku melirik Nora, apakah ia keberatan. Nora menunjukkan antusiasme yang sama, maka kamipun mulai melangkah naik satu demi satu anak tangga beton itu. Aku mengingatkan Nora, bahwa barang-barang masih di kamar hotel dan batas check out jam 13.00, yang berarti kami harus berkejaran dengan waktu. Tapi Nora meyakinkan Aku, bahwa kita telpon ke hotel untuk minta dispensasi late check out.

Sambil menghitung satu persatu anak tangga kami lewati dengan langkah sedang tanpa berpegangan pada bahu tangga. Tiba pada anak tangga ke 100 napasku mulai Senin-Kamis dan harus dibantu dengan berpegangan. Tangga dengan lebar sekitar 3 m akhirnya kami lewati pada hitungan anak tangga yang ke 115. Dan disebelah kanan tangga itu merupakan tempat jatuhnya air terjun setinggi beberapa meter kebawah dengan suara yang demikian bergemuruh. Bagi Basri naik turun tangga ini barangkali sudah merupakan pekerjaan rutin yang dilakoninya setiap hari untuk mengantarkan wisatawan lokal dan mancanegara menggunakan jasanya masuk ke gua. Sedikitpun tidak terasa lelah di raut wajahnya yang sedikit kurus itu. Ia buru-buru melangkah beberapa meter kedepan kami untuk mengabadikan setiap momen dengan camera Canon PC 1338 yang kami bawa. Kami dibuatnya seperti aktor-artis film yang sedang melakoni suatu peran dan dia bertindak sebagai sutradaranya. Kadang-kadang Aku melihat gayanya dan omongannya ketika mengatur posisi kami sebelum di jepretnya, Aku ketawa dalam hati. Satu lagi yang Aku mengacungi jempol kepadanya.

Dari tangga terhubung dengan suatu jalan koridor dari beton yang agak sempit disisi kiri, sedangkan disisi kanan sungai yang cukup dalam dan airnya yang keruh mengalir dengan tenang. Jalan koridor beton ini pada sisi sungai diberi dinding beton untuk melindungi pengunjung dari jatuh atau terpeleset ke sungai. Jalan koridor ini tidak jauh sebelum terhubung dengan jalan setapak menuju gua. Sebagian dinding beton jalan koridor terlihat ambruk dan menurut cerita Basri ini terjadi karena terjangan air yang terlalu besar dan kuat pada waktu itu. Aku bergidik juga, bukan tidak mungkin disaat-saat kami sedang berjalan santai disana, tahu-tahu datang air bah yang besar dan menerjang kami. Kekhawatiran ini Aku ungkapkan kepada Basri, selain itu khawatir juga kami tidak bisa pulang nantinya. Basri meyakinkan kami, bahwa itu tidak akan terjadi dan kejadian itu sudah lama dan waktu itu memang hujannya luar biasa di daerah hulu sungai dan oleh pengelola taman telah mengambil tindakan antisipasi sebelumnya. Satu pertanyaan lagi dalam benakku, kenapa dinding yang roboh ini tidak segera diperbaiki, bukankah bila banyak pengunjung, ini akan rawan bagi keselamatan? Tapi pertanyaan itu cukup hanya kusimpan dalam hati, karena Aku sudah tahu jawabannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s