RUMAH RAKYAT YANG MEWAH

gambar_gedung_dpr_baru_3[1]

Kalau ditanya kepada rakyat, setujukah mareka dibangun rumah mewah untuk mareka? Kita yakin, sebagian besar mareka akan menjawab setuju. Karena alasannya, sudah saatnya mareka memiliki dan menikmati kehidupan ‘mewah’ sebagai anak bangsa yang telah merdeka selama 66 tahun. Kalau harus menunggu lagi, khawatirnya mareka keburu tua dan akhirnya tidak bisa menikmati apa-apa lagi dari hasil kemerdekaan dan kekayaan alam negerinya. Di usia menjelang senja inilah sebenarnya saat mareka sudah bisa menikmati kelezatan kemerdekaan dan kekayaan hasil alam negerinya yang melimpah.

Tapi, kelihatannya keinginan untuk memiliki rumah yang ‘mewah’ itu harus di kubur dalam-dalam di dalam rongga dada rakyat Indonesia sampai saat ini. Mareka hari ini harus berkutat, bagaimana bisa bertahan hidup dengan mengisi perutnya yang keroncongan. Kelangsungan hidup untuk mareka dan keluarganya hari ini, dengan mendapatkan suatu pekerjaan yang memadai, itulah yang mareka pikirkan; tidak muluk-muluk, tidak untuk sebuah rumah yang mewah. Sebagian mareka ada yang sudah mati kelaparan karena tidak ada makanan untuk dimakan, sebagian terbaring menunggu ajal menjemputnya, digerogoti penyakit tidak ada biaya untuk perobatan, sebagian lagi terlunta-lunta di negeri orang menerima nasib sebagai ‘babu’ dengan berbagai resiko pelecehan dan kejahatan. Siapa yang memperhatikan mareka?

Masih terngiang-ngiang dalam benak rakyat, bahwa dulu ada sekelompok manusia yang mendatangi mareka di kampung-kampung, dipelosok-pelosok desa nusantara ini dengan atribut masing-masing kelompoknya, membujuk-bujuk mareka, baik secara halus maupun secara kasar, bahwa tolonglah kami, kami akan berjuang untuk memperbaiki nasib mareka yang sudah lama didera penderitaan dalam kemiskinan. Janji-janji itu keluar begitu saja ditengah pesta pora demokrasi. Entahlah, hasilnya apakah sekelompok manusia itu sesuai dengan pilihan mareka atau tidak. Tapi itulah wajah-wajah yang terlihat oleh mareka hari ini di layar-layar Televisi, di koran-koran dan di media lainnya. Bagaimana gigihnya sekelompok orang itu memperjuangkan kepentingan mareka sendiri dan kelompoknya. Bagaimana sekelompok orang itu membuat statement-statement dengan mengatas namakan mareka sebagai rakyat, untuk membangun sebuah gedung yang mewah : “…gedung ini kita bangun untuk kepentingan rakyat, agar wakil-wakil rakyat dapat meningkatkan kinerjanya..gedung 36 lantai yang bernilai Rp. 1.13 trilliun dan masing-masing ruangan anggota dewan bernilai Rp.800 juta sudah murah..dan akan segera diletakkan batu pertama pada 22 Juni 2011 ini, panitia sudah siap ditenderkan, yang akan diikuti oleh sejumlah kontraktor..”. Tidak hanya minta fasilitas kantor yang mewah, tapi juga berbagai fasilitas, termasuk biaya rekreasi keluar negeri berkedok studi banding untuk berbagai program penyusunan RUU yang hasilnya banyak yang nol besar. Hampir sama dengan perilaku Anggota DPR , juga perilaku Birokrat Pemerintahan, penyelewangan/korupsi merajalela, pemborosan anggaran dan lain sebagainya. Rongga dada rakyat yang sudah sakit, makin bertambah sakit rasanya, dalam lirihan kesakitan itulah keluar sepatah kata..Koq tega-teganya ya!

Jangankan gedung mewah, bagaimana untuk bisa hidup dalam kesederhanaan sekedar memenuhi sandang pangan selama ini mareka rasa cukup susah. Sudah banyak yang mareka keluhkan melalui suara-suara mahasiswa, LSM, tokoh-tokoh masyarakat dan agama, namun belum ada yang berubah, kelihatannya sekelompok orang itu sudah budek. Sekelompok orang yang berkumpul disebuah gedung di Senayan itu terus memperjuangkan kepentingan-kepentingan mareka, untuk meningkatkan kesejahteraan dengan gaji, tunjangan, berbagai fasilitas seperti rumah kediaman dinas, kenderaan, berbagai biaya perjalanan, biaya rapat, fasilitas ruang perkantoran, staf tenaga ahli dan lain sebagainya. Rakyat bisa membayangkan bagaimana kehidupan seorang anggota dewan yang mewakilinya di negeri ini, yang katanya termasuk negara miskin. Siapa bisa menjamin kinerja anggota dewan yang terhormat itu akan meningkat dengan meningkatnya sejumlah fasilitas yang katanya kebutuhan itu? Benarkah asumsi yang dibangun diatas, bahwa meningkatnya fasilitas akan meningkatkan kinerja anggota dewan? Ukuran-ukuran apa yang digunakan?

Setahu kita sebagai rakyat, anggota dewan yang terhormat itu kinerjanya sangat tergantung pada niat awalnya sewaktu mencalonkan diri untuk dipilih atau istilah sekarang ini cita-cita (dream) nya menjadi anggota DPR, apakah murni untuk memperjuangkan kepentingan aspirasi rakyat atau hanya untuk menambah pundi-pundi dan koceknya serta hanya mengejar kedudukan terhormat (yang tadinya tidak terhormat) gagah-gagahan bisa menjadi orang yang terhormat. Mungkin itulah yang muncul dari perilaku yang terlihat dan dipertontonkan dihadapan rakyat sekarang. Kita juga tidak menutup mata, tidak semua, ada sebagian kecil dari mareka yang murni memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat, akan tetapi suara-suara mareka ini gaungnya kecil dan sayup-sayup bahkan tak terdengar diantara riuh pikuknya ‘kebutuhan’ yang mendesak dari mareka-mareka yang penuh kepentingannya.

Jakarta, 30 Maret 2011

By: Zulaidin Mas

2 pemikiran pada “RUMAH RAKYAT YANG MEWAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s