MASA KECILKU YANG INDAH.. (3)

CEMETI AYAHKU 


Sekolah Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) adalah satu-satunya Sekolah Dasar yang ada di kampungku. Bangunan gedung sekolah ini hampir seluruhnya terdiri dari kayu dengan lantai tanah liat. Atap bangunan dari daun kering tumbuhan jenis palm atau dikampungku disebut pohon Meuria yang daunnya dianyam untuk atap. Di sekolah MIN yang berjarak 200 m dari rumahku inilah Aku pertama mengecap pendidikan. Dinding bangunan sekolah ini terdiri dari papan yang sudah tua, disana sini ada lubang dan antara papan sudah merenggang karena papannya sudah kering. Dari celah lubang papan itulah Ibu-Ibu yang menyekolahkan anaknya disana melihat kedalam ruangan tingkah laku anaknya, termasuk Ibuku. Ketika ada yang menangis atau mau pipis orang tua murid turun tangan membantu Bapak atau Ibu guru. Bangku tempat duduk terbuat dari batang kayu Meranti yang kuat dan keras. Tebal batang kayu untuk bangku sekolah mencapai 5 cm dan ini sangat sulit bagi anak-anak seusiaku untuk menggeser atau memindahnya. Dan kalau sudah urusan geser menggeser atau memindahkan bangku biasanya pekerjaan itu dilakukan oleh orang dewasa atau guru-guruku dibantu orang tua murid. Begitu juga dengan meja belajar terdiri dari papan yang tebal, kuat dan keras dengan ukuran panjang yang sama dengan bangku. Ada laci tempat buku dibagian bawahnya. Dengan batu tulis yang ada ditangan Aku menulis atau menggambar macam-macam di meja belajar itu. Sementara itu didepan kelas terhampar sebuah papan tulis berwarna hitam dengan ukuran kira-kira 2,5 x 1,5 m.

 SAM_0895

Gambar 2.  Alm Ayahku Sebagai Veteran RI Sangat Disiplin dan Keras Didikannya, Akan Tetapi Penuh Kasih Sayang Terhadap Anak-anaknya

Aku dan temanku paling senang bila guru yang mengajar terlambat masuk, kami bisa naik keatas meja dan bangku itu main kejar-kejaran tanpa khawatir akan roboh atau patah. Aku membayangkan sekarang ini kayu dan papan yang kuat dan keras seperti itu sangat sulit diperoleh di Ibu Kota Jakarta dan kalaupun ada harganya bisa selangit karena didatangkan dari hutan Kalimantan atau Sumatera yang sudah gundul. Tidak gampang memang untuk memperoleh jenis kayu yang keras dan kuat sekarang ini, karena itu memerlukan tumbuhan yang berumur cukup tua baru ditebang, sedangkan sekarang masih muda sudah dibabat habis. Kebanyakan papan yang kita gunakan sekarang dari segi kualitas cukup memprihatinkan, karena berasal dari tumbuhan-tumbuhan yang belum cukup umur itu. Karena itu barangkali orang kota lebih memilih membangun rumah dengan sesedikit mungkin menggunakan kayu, seperti menggunakan semen, besi atau logam karena lebih gampang diperoleh dan murah.

Orang tuaku selain mengharuskan Kami bersekolah juga Kami harus pergi mengaji pada sore atau malam hari dan menginap ditempat pengajian. Dan memang hampir semua keluarga di Aceh melakukan hal sama, ada yang mengaji di Pasantren. Kami mengaji di rumah guru atau Tengku* Ishak. Menurut orang tua kami mengaji sangat penting untuk mendapatkan ilmu yang akan dibawa sebagai bekal di hari akhirat. Dengan mengaji Al-Qur’an kami anak-anaknya akan dapat mengarungi kehidupan dunia yang banyak cobaannya, tidak mudah berputus asa dan memahami arti hidup dunia sebagai ladang tempat menanam yang akan memetik hasilnya di akhirat kelak. Setiap perbuatan baik, akan dibalas oleh Allah SWT dengan pahala, dan sebaliknya setiap perbuatan buruk atau jelek akan dibalas oleh Allah SWT dengan dosa. Orang yang banyak mendapatkan pahala akan ditempatkan di dalam Syurga tempat yang paling indah yang di idam-idamkan manusia. Dan demikian juga orang-orang yang banyak mendapatkan dosa akan dibalas dengan Neraka, sejelek-jelek tempat dan penuh dengan berbagai siksaan berupa dibakar dalam api yang sangat panas. Begitulah orang tuaku, guru mengajiku Tengku Ishak menanamkan dasar-dasar keyakinan Islam di dada kami.

Dari cerita Ibuku, ternyata Aku bukan termasuk anak tipe yang rajin sekolah dan mengaji. Dari awal sekali Aku susah sekali diajak untuk bersekolah dan mengaji. Kalau disuruh untuk bersekolah dan mengaji ada saja alasan macam-macam, sakit ini sakit itulah dan kalau orang tuaku sudah mulai keras, terus Aku menangis. Sebagai anak kecil mungkin Aku masih .senang bermain-main dari pada harus bersekolah pada waktu itu. Sekolah tidak menarik sama sekali bagiku, mungkin salah satu alasan adalah Aku tahu disekolah itu ada seorang anak yang nakal yang sering menggangguku, tapi Aku tidak menyampaikan kepada orang tuaku. Dan lebih tidak menyenangkan lagi bersekolah itu Aku merasa capek disuruh menyapu bila kena piket..wuh sungguh suatu pekerjaan yang aku tidak ingin lakukan. Aku ingin setiap hari begitu selesai sarapan pagi, langsung pergi bermain kelereng, petak umpet dan lain sebagainya bersama dengan teman-temanku yang belum sekolah maupun yang putus sekolah. Ayah dan Ibuku terus menerus membujukku untuk mau bersekolah dan mengaji sampai akhirnya Aku harus menyerah. Bayangkan kalau Aku meneruskan sikapku untuk tidak mau sekolah dan mengaji, entahlah Aku jadi seperti apa sekarang. Salah seorang Adikku rupanya meneruskan sikapku itu, dan kini ia menjadi contoh yang tidak baik bagi yang lain bila cerita tentang masalah pendidikan. Kesadaran itu kadang datang terlambat, bagi Adikku penyesalannya menjadi tekadnya bagi anak-anaknya sekarang untuk tidak akan dibiarkan untuk tidak sekolah dan mengaji.

Tadinya Aku ingin bertahan tidak mau sekolah dan mengaji, sampai suatu hari sebuah benda yang menggantung diatas pintu rumahku menghancurkan perlawananku. Rupanya diam-diam Ayahku sudah mempersiapkan benda tersebut untuk menghukum Kami anak-anaknya bila tidak mau bersekolah dan mengaji.

Sore itu Aku pulang kerumah dari bermain dalam keadaan yang cukup letih. Aku ingin sore itu selesai mandi, makan malam, sholat magrib di rumah kemudian langsung pergi tidur. Kuncinya di Ayahku. Aku mencoba mendekati Ibuku agar bisa membujuk Ayahku agar diberi izin untuk tidak mengaji sekali itu. Tapi jawaban Ibuku diluar dugaan.

“Boleh ngak mau pergi mengaji, tapi siap menerima hukuman dari Ayahmu ya ..Ibu tidak mau membelanya..Itu cemetinya…”. Mendengar jawaban Ibuku yang tegas itu sambil menunjukkan kesebuah benda yang tergantung di atas pintu yang bernama cemeti, hatiku jadi ciut dan pupus seketika harapanku untuk tidak mengaji.

Aku dan Abangku tahu benda yang bernama cemeti itu sangat berbahaya bila sempat mendarat di atas kulit kami. Benda itu sebenarnya tidak aneh lagi bagi kami. Ia berupa sebuah batang pohon Teki (Cyperus Rotendus L) seukuran pensil 2B dengan cabangnya seukuran lidi yang kuat telah diraut dan dikupas kulitnya oleh Ayahku. Tumbuhan Teki ini terkenal sebagai tumbuhan gulma (tumbuhan pengganggu tanaman utama) yang batangnya sangat kuat, gampang tumbuh melalui biji di semak belukar belakang rumah kami. Tumbuhan ini sangat susah dibersihkan dengan cangkul atau parang karena kayunya yang kuat. Biji atau buah tumbuhan ini bila sudah masak berwarna kuning kemerah-merahan kecil-kecil lebih kecil dari kelereng biasa. Buahnya enak di makan termasuk yang disenangi burung-burung. Batang dan cabang pohon Teki yang mirip kawat putih itu bakal hukuman kami di betis kaki, paha dan tangan, apabila tidak mau sekolah dan mengaji.

Ayahku tidak hanya menggantungkan cemeti itu hanya untuk menakut-nakuti kami, tapi benar benar dilaksanakannya hukumannya. Diam-diam suatu sore aku pernah mendengar Abangku menjerit-jerit meminta tolong Ibuku kena hukuman Ayah. Penyebabnya karena terlambat pulang kerumah pada hal hari sudah hampir menjelang maqrib. Ditengah jeritan Abangku, Aku bergegas mengambil sarung lari mengambil langkah seribu menuju ke tempat pengajian. Kalau tidak aku lakukan, mungkin Akupun ikut merasakan cemeti itu. Besok Aku lihat betis dan paha Abangku ada bekas merah agak menghitam yang diberi obat merah sama Ibuku. Abangku memang sedikit lebih bandel dari Aku. Dalam hatiku berbisik, mudah-mudahan bandel Abangku bisa berubah dengan hukuman ini. Aku dan Abangku sebenarnya cukup kompak, bila salah seorang dari kami melakukan kesalahan, dihadapan Ayahku maupun Ibuku saling membela untuk tidak mendapat hukuman. Taktik kami ini beberapa kali bisa lolos. Tapi yang kali ini Abangku yang ditimpa sial, karena waktu itu Ayahku tidak memerlukan pembelaanku lagi. Cemeti Ayahku telah mengajari kami untuk disiplin dalam hal sekolah dan mengaji!

Jakarta, 15 Juli 2010

By : Zulaidin Mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s