MASA KECILKU YANG INDAH ..(4)

MAIN PERANG PERANGAN 

Waktu yang paling menyenangkan adalah ketika selesai jam sekolah dan pada hari libur. Biasanya Aku dan temanku sudah janjian mau main permainan apa. Kalau hanya mau main kelereng biasanya tidak membutuhkan teman yang banyak, cukup satu-dua orang. Akan tetapi kalau mau main bola, umpet-umpetan atau mau main perang perangan butuh banyak orang dan biasanya kami bermain pada hari hari libur sekolah, hari minggu misalnya. Aku berpikir sekarang, bayangkan sebagian besar waktu untuk hidup manusia dihabiskan untuk bermain dari sejak anak-anak sampai usia tua. Bedanya hanyalah jenis permainan yang dimainkan. Permainan yang dimainkan tergantung kelas status sosial yang di sandangnya. Biasanya semakin tinggi status sosial seseorang permainan yang dimainkannya juga lebih berkelas atau elitis seperti pada permainan golf misalnya, tapi ada juga permainan yang disenangi semua strata status sosial masyarakat seperti permainan bola. Jenis permainan bola termasuk permainan favoritku.

Dari permainan biasanya ada penyedapnya yang membuat manusia ketagihan, yaitu taruhannya. Mulai dari taruhan recehan sampai jutaan bahkan milyaran sekarang ini, atau bukan dalam bentuk uang tapi hukuman fisik atau denda, berupa berdiri dengan satu kaki- tangan memegang kedua daun telinga, push up atau sit up dan lain sebagainya. Begitu juga permainan kami ada yang bertaruh, kalau kalah dalam peperangan harus push-up. Orang orang yang lebih dewasa di kampungku juga ada permainan sendiri, yaitu permainan menyabung ayam. Permainan mengadu ayam jago ini biasanya di mainkan sembunyi-sembunyi, di daerah hutan semak belukar, karena taruhannya yang termasuk judi itu. Biasanya untuk ikut permainan ini pesertanya datang satu demi satu secara sembunyi-sembunyi ke tempat sabung ayam. Anak-anak seperti Aku ada yang menjadi kacung, di kasih uang untuk mematai-matai, apabila ada pihak pemuka agama atau geusyik atau mukim* yang datang menggerebeknya.

Anak-anak kampung seperti Aku ini dari dulu mungkin permainannya tidak jauh berbeda, mungkin kalaupun berbeda karena pengaruh dari kemajuan zaman. Bisnis hiburan dan permainan anak-anak semacam play station belum terpikirkan. Sekarang sudah merambah sampai ke kota-kota kecil di desa, yang cukup menguras kocek orang tua, karena untuk bermain permainan ini harus mengeluarkan duit. Adanya permainan play station ini membuat anak-anak terlarut dalam permainan, sehingga tidak jarang sekarang banyak anak-anak yang tidak pergi mengaji lagi. Tapi anak-anak kota yang Aku perhatikan pada anakku sekarang ini, kalau sudah liburan minta permainan macam-macam, masyaAllah kalau orang tua ’tidak sadar’ hitung-hitung bisa bangkrut. Selain permainan video games, film cartoon, juga bacaan bermacam-macam komik Jepang, diantaranya Doraemon, Naruto, Subasa dan berbagai cerita silat dan kongfu China. Tinggal kearifan orang tuanya yang akhirnya menentukan, mana permainan dan bacaan yang dapat memberikan manfaat ilmu pengetahuan/pendidikan bagi si anak, mana yang bisa merusak, atau paling tidak permainan itu tidak merusak jiwa. Agak disayangkan, komik-komik buatan negeri kita tidak begitu di gemari oleh anak-anak dan jumlahpun bisa dihitung dengan jari. Dan terakhir komik negara tetangga kita Malaysia dengan Ipin & Upin yang berbahasa Melayu Malaysia, jadi kegemaran anak-anak, bahkan orang tua..Betöl..betöl..betöl..menjadi kata-kata yang sangat akrab dengan lidah anak-anak dan kita sekarang.

Aku menyadari masa yang indah di usia anak-anak itu tidak semua anak-anak mengalaminya. Banyak juga anak-anak di kampungku yang terampas masa kecilnya. Mareka dari pada bermain lebih harus membantu atau diajak orang tuanya untuk ikut membajak sawah. Karena kondisi ekonomi yang susah tidak sedikit mareka tidak bisa bersekolah sampai kelas 1-2 MIN atau Sekolah Dasar, kemudian putus sekolah tiada biaya. Disamping itu, tidak jarang juga karena memang mareka tidak ada yang mendukung serta memotivasinya untuk bersekolah.

Apa yang membanggakan dari permainan perang-perangan yang kami mainkan adalah, bahwa untuk bisa ikut permainan ini masing-masing kami harus mempunyai senjata atau bedil. Kami masing-masing membuat senjata sendiri atau dibantu oleh teman yang lain. Pertama kami harus mencari bambu kecil yang lurus untuk laras senjata. Pohon bambu yang terdapat dipinggir kali kami jelajahi dan tidak jarang kadang yang ditemui bukan bambu yang lurus, tapi jenis binatang liar yang bersarang di rumpun-rumpun bambu seperti ular, biawak, musang atau sarang burung dengan anaknya. Selanjutnya batang atau ruas bambu yang lurus itu dipotong dengan pisau sepanjang kurang lebih 30-40 cm. Sebagai pendorong pelurunya diambil bagian dari bambu, di raut bulat memanjang sampai masuk kelubang ruas bambu. Gagang senapan bedil ini kami buat dari akar bambu yang melengkung mirip gagang pistol, akar-akarnya diraut halus. Sebagai peluru dari senjata kami adalah buah-buah dari tanaman yang tumbuh dihutan yang berbiji keras. Jenis tananam berbatang kayu yang kuat ini mempunyai ciri khusus, biji buahnya berbentuk tangkai seperti pada buah anggur. Biji biji yang belum matang itulah menjadi peluru dari senapan kami. Biasanya ’peluru’ itu lebih besar dari lubang senapan, untuk memasukkannya kami mengetoknya memakai gagang senapan. Cara menembakkan adalah dengan mendorong biji itu keluar dengan gagang yang menimbulkan bunyi.

Setelah selesai membuat senjatanya, barulah kemudian permainan perang-perangan di mulai. Sebelum permainan di mulai ada aturan yang berlaku. Peserta dibagi dalam dua kelompok yang saling bermusuhan. Permainan di mainkan di hutan semak belukar yang banyak terdapat di kampung kami. Salah satu tempat yang paling menyenangkan untuk bermain perang perangan adalah di sebuah kebun kelapa yang sebagian arealnya di penuhi semak belukar persis di belakang rumahku. Kebun kelapa ini milik warga kampung kami yang tidak dipagar dan semak belukarnya cukup ’aman’ menurut kami. Selain main perang-perangan kadang juga bermain bola, umpet-umpetan serta kejar-kejaran dan lain sebagainya disana.

Kedua kelompok yang bermusuhan itu dengan memasang tanda yang berbeda masing-masing di kepala, kemudian masuk ke hutan semak belukar untuk mengintai musuhnya. Salah seorang menjadi komandan kelompoknya. Dengan merayap di tanah layaknya seperti prajurit di medan perang, kami mengintai kelengahan musuh kami masing-masing. Dan apabila ketemu musuh, senjata siapa yang duluan menyalak, dialah yang akan memenangkan permainan. Siapa yang duluan terkena tembakan, dialah yang harus berpura mati atau terluka dan ditawan sebagai musuh. Tapi permainan belum berakhir sampai komandan kelompoknya berhasil ditawan atau ditangkap.

Aku tidak mengerti berpuluh tahun kemudian ternyata permainan perang-perangan yang kumainkan itu dulu bersama teman-teman kecilku menjadi kenyataan. Dan ketika itu terjadi aku sudah merantau melanjutkan pendidikanku ke propinsi lain. Aku mendengar ada teman-teman bermainku dulu yang putus sekolah yang ikut dalam kelompok yang menurut mareka ingin memperjuangkan ’ketidakadilan’ yang terjadi di tanah kelahiranku. Ketika konflik senjata itu terjadi, Aku merasakan masa kecilku yang indah itu seolah sebuah impian yang pernah singgah dalam tidurku. Masa konflik yang cukup panjang itu sangat menderita baik secara fisik maupun mental masyarakat Aceh secara keseluruhan. Saling curiga dan fitnah meraja lela, seolah nilai-nilai agama Islam yang melekat dan menjadi pegangan hidup masyarakat menjadi tercabik-cabik, pupus, dan sirna ditelan bumi; yang ada siapa mendukung siapa, kawan atau lawan. Banyak masyarakat yang menjadi korban karena prasangka dan dugaan atau karena hasutan dan fitnah.

Catatan: * Geusyik : Kepala Desa atau Kepala Kampung setara dengan Lurah, sedangkan Mukim setingkat geusyik atau dibawah Camat.

Jakarta, 21 Juli 2010
By : Zulaidin Mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s