MASA KECILKU YANG INDAH ..(7)

Belajar Naik Sepeda (Part 1)

Suatu ketika Aku dikagetkan oleh benda aneh yang tiba-tiba muncul di halaman rumahku sore itu. Aku baru pulang dari memancing ikan. Benda itu aneh bagiku karena Aku baru pertama melihatnya dari dekat dengan mataku. Tanpa berpikir panjang setelah menyimpan pancing, Aku mendekati benda tersebut ingin melihat dan merabanya dari dekat. Persis apa yang selama ini kudengar dari Ibuku, bahwa Ayahku akan membelikan sebuah sepeda untuk memudahkan mengangkut hasil panen dari sawah serta keperluan transportasi beliau sehari-hari. Kebetulan hasil penen musim ini agak lumayan yang membuat Ayahku memenuhi keinginannya. Kukatakan keinginan beliau tidak juga, tapi sebenarnya lebih dominan untuk memenuhi kemauanku. Aku masih ingat, ketika Aku pulang dari mengambil pisang di kebun Seumatang bersama Ayah, sambil memanggul tandem pisang Raja aku bertanya sama Ayahku,
“Yah..pajan Ayah blau geureuta angen? (Yah.. Kapan Ayah beli sepeda?)
Ayahku berpikir sejenak sambil melirik kearahku yang sedang memanggul pisang. Dari sorot matanya Aku melihat seolah beliau mau berkata,
“Sabar ya Nak..Ayah merasakan kamu capek memanggul pisang-pisang itu, tapi suatu saat Ayah akan belikan sepeda untuk bisa mengangkut pisang-pisang kita. Tapi alangkah senang hatiku ketika Ayah walaupun dengan suara pelan hampir-hampir seperti berbisik mengatakan,
“Kajuet, akhee minggu nyau ta blau” (Ya, akhir minggu ini kita beli).

Dimataku benda yang bernama sepeda itu demikian menakjubkan, kog bisa berjalan dengan dua roda dan dapat dikendarai orang lagi. Kupegang setang sepeda itu lalu kugoyang-goyang, terbersit dalam pikiranku, bagaimana caranya ya biar Aku bisa mengendarai sepeda ini. Kuraba besi tengahnya itu, cat hitam baru yang mengkilat ada tulisannya Raleigh disitu sebagai mereknya. Dari cat yang mengkilap itu nampak samar-samar wajahku disana. Kudekati wajahku ke besi itu, wajahku jadi membesar dan jelek, kujauhi lagi mengecil lagi. Tanpa terasa tiba-tiba sepeda miring mau jatuh kearahku dan timbul suara trik..trik..trik, suara yang demikian indah dan merdu ditelingaku. Sambil kutopang sepeda, tanganku mencoba memutar roda ban sepeda yang menimbulkan suara, ternyata suara trik-trik tambah keras, cepat dan merdu. Jari-jari sepeda yang lengket pada pelaknya seolah berlari berputar kejar mengejar, saling berlomba seperti suatu permainan yang mengadu kecepatan mau memperebutkan juara nomor satu. Begitu mau berhenti bannya kuputar lagi. Tapi kali ini Aku tahu, untuk menggerakkan ban dapat dilakukan melalui pedalnya. Kumiringkan sepeda beberapa derajat kearahku bertopang pada standar, kemudian kuputar pedalnya dan timbullah bunyi yang merdu …trik..trik…trik…..trik..trik..trik mengalun berirama, makin cepat makin keras dan rame bunyinya trik-trik.. asyik sekali terdengar di telingaku. Setelah bannya berputar kencang, Aku coba menghentikannya, pertama pakai sandal jepit yang kulengketkan pelan-pelan pada pelak yang bagian luar dekat ban. Ban sepeda berhenti berputar. Aku selidiki semua peralatan disekitar bannya. Ternyata dibawah sadel tempat duduk, ada karet yang mirip karet sandal jepitku yang mengapit kedua sisi pelak sepeda bagian luar. Aku coba teliti karet itu, ternyata tersambung dengan kawat kearah setang sepeda dan disana ada benda yang bisa di tekan dan dilepas yang bernama rem. Rem tangan pada kedua sisi, sebelah kanan rem ban depan, sebelah kiri rem ban belakang. Sekarang putaran ban sepeda dengan mudah Aku bisa mengerem mendadak. Di bagian depan ada lampu yang menyala bila dinamonya berputar atau bergesek dengan ban yang berputar. Kalau untuk menyalakan lampu sepeda Aku sering minta bantuan Abangku untuk mengangkat ban sepeda depan. Selajutnya ban kuputar cepat dengan tangan yang memutarkan dinamonya. Siang hari hampir tidak terlihat nyala lampunya, tapi kalau malam terlihat dengan baik. Diam-diam suatu malam yang gelap Aku dan Abangku masuk ke tempat penyimpanan sepeda dan memutar dinamo sepeda untuk mengetahui sebesar apakah nyala lampu sepeda di malam hari. Selain memainkan lampu sepeda, kami juga suka membunyikan bel sepeda..kring…kring..kring. Karena seringnya timbul bunyi kring..kring..kring kadang Ayah dan Ibuku meminta kami menghentikannya. Berisik, katanya.

Aku senang sekali bisa naik sepeda. Sambil kukayuh pedalnya dengan kakiku, tanganku melambai lambai orang-orang di sepanjang jalan yang sedang menyaksikan balapan sepeda. Ya, Aku sekarang sedang bertanding balapan sepeda di sebuah tanah lapang. Aku tambah kencang mendayungkan sepedaku untuk mendahului sepeda temanku yang didepan. Aku tidak mau kalah dalam balapan ini. Aku harus menang. Aku harus juara pertama. Kalau Aku kalah, Aku malu sama Ayah dan Ibuku yang telah memberikan support kepadaku sambil bertepuk tangan. Mareka semua yang menonton perlombaan berteriak-teriak memanggil-manggil namaku agar Aku mendahului sepeda yang didepanku yang mau mencapai garis finis. Aku berusaha menginjak pedalnya makin cepat, makin cepat dan makin cepat……… Tapi sayup-sayup kudengar Ibu memanggilku untuk bangun dan bergegas mandi karena hari sudah jam lima sore. Aku baru ingat, pulang sekolah tadi siang sekitar jam 13.00, Aku rilek di tempat tidur sebentar sambil memikirkan PR menggambar untuk esok hari, aku harus bikin gambar apa. Aku teringat sepeda baru Ayahku itu. Sambil tiduran kucoba menggambar di buku gambar bentuk roda dengan jari-jarinya, setang dan pedal-pedalnya. Belum selesai seluruhnya, Aku keburu tertidur dan terbawa mimpi balapan sepeda. Ah…, Aku terduduk lemas!

Mimpi tentang Aku sudah bisa naik sepeda dan balapan sepeda, tak seindah kenyataannya. Aku ingin bisa naik sepeda seperti Ayah. Aku sering memperhatikan Ayah mendayung sepedanya dengan santai dan sekali-kali tangan beliau melepaskan setangnya sebelah, begitu rileknya. Aku berpikir, kalau Aku bisa naik sepeda, Aku akan bersekolah dengan naik sepeda, tidak perlu lagi berjalan kaki apabila Ayahku berhalangan untuk mengantarkanku. Setelah kelas IV di MIN Aku pindah sekolah ke SDN No. 2 Kuta Binjei, Aku merasa cukup lelah bila harus berjalan kaki ke Kuta Binjei 1,5 km untuk bersekolah belum lagi pulangnya hari panas terik. Tak jarang sampai dirumah sudah demikian lelah dan tertidur pulas beberapa saat sebelum Ibu membangunkanku. Beruntung kalau Ayah mengantar dan menjemputku, Aku dapat membonceng sepeda Ayah. Dibonceng Ayah dibelakang, tak jarang mulutku bernyanyi-nyanyi kecil sambil menikmati hembusan angin siang persawahan yang menyejukkan. Aku ingat kata-kata Ayah kalau membonceng hati-hati kakinya jangan sampai masuk ke jari-jari sepeda, nanti bisa putus kakinya. Aku melihat anak-anak lain yang lebih kecil dariku, diikat kakinya pakai tali agar tidak masuk ke jari-jari sepeda. Kalau jalannya mulus sungguh mengasyikkan naik sepeda di bonceng Ayah. Akan tetapi ketika melewati jalan berbatu dan berlubang, Aku harus menggeser pantatku berkali-kali agar seimbang lagi apabila ban sepeda Ayah menabrak batu atau masuk ke lubang jalan. Tapi ada yang tidak kusuka, kalau ada satu dua mobil yang lewat. Pasalnya debu yang ditimbulkan bisa membuat Ayah dan Aku terbatuk-batuk dan harus menutup mulut dan hidung rapat-rapat sehingga sulit bernapas. Untunglah pada masa itu jarang ada mobil yang lewat.

Keinginan untuk bisa naik sepeda sendiri sudah tidak tertahankan lagi. Untuk menyampaikan kepada Ayah tentang keinginanku itu, Aku tidak berani. Disamping Ayah memang selalu membawa sepedanya kalau bepergian kemana-mana, Aku juga tidak ada waktu untuk belajar sepeda. Pulang sekolah sekitar jam 14.00 misalnya, Ayahku tidak dirumah dan tentu saja sepeda dibawanya. Kecuali hari minggu atau ketika Ayahku sedang ke kebun Seumatang membersihkan semak belukar dan daun-daun pisang yang telah tua. Ayahku sering tidak membawa sepedanya dan ketika itu Aku bebas ‘mengutak- atik’ sepeda Ayah dan mendengarkan bunyi trik-trik yang merdu itu. Dan ketika itu, awal mulanya Aku mulai belajar mendorong-dorong sambil sekali dengan sebelah tanganku berpegang pada setang dan sebelahnya lagi pada besi tengah Aku belajar naik sepeda. Berulang kali kucoba berulang kali gagal, tapi berulang kali timbul semangatku untuk belajar lagi untuk bisa naik sepeda. Aku tidak mau berputus asa dalam kegagalan, Aku harus bisa naik sepeda, begitu tekadku dalam hati.

Jakarta, 06 Agustus 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s