SELAMAT JALAN USTAD JEFFRI AL BUKHORI (UJE), PELAJARAN DARI SEBUAH KEMATIAN!

Malam Jum’at 26 April 2013 di Jalan Gedong Hijau Raya Pondok Indah Jakarta Selatan dinihari terjadi sebuah Kecelakaan yang merenggut nyawa seorang Ustad Muda Kharismatik yang sering disebut anak muda dengan sebutan ‘Ustad Gaul’, sering muncul di layar kaca memberikan tausiyah dan menghibur masyarakat pemirsa dari semua kalangan. Ustad Jeffri Al Bukhori yang menjadi inspirasi bagi banyak kalangan muda dalam merubah kehidupannya dari ‘dunia gelap’ menuju pencerahan menjadi pendakwah (dai2) muda yang gaul.

Pada masa muda dari kehidpan Ustad Jeffri sendiri yang sempat terseret ke dunia gelap dan kemudian berbalik arah menjadi pendakwah adalah sesuatu yang sangat dekat dengan anak muda ketika berceramah, karena beliau sendiri pernah mengalami kehidupan mareka. Penampilan yang sederhana dan suara yang memikat dalam melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an (pernah mendapat piala sebagai qori), selawat, syair lagu Islami menambah pesona disamping pernah aktif sebagai pemain sinetron/film. Penyampaian dakwahnya yang tidak menggurui dan menyalahkankan tentu saja dengan cepat diterima oleh masyarakat Indonesia, tidak hanya dikalangan Islam akan tetapi juga oleh kalangan non Muslim. Dalam berteman beliau juga tidak memilih-milih teman siapa saja, berperilaku akrab dan ramah. Itulah kira-kira gambaran sosok Ustad muda dengan panggilan akrab teman-temannya Uje!

Pada dinihari malam Jum’at tsb seakan semua masyarakat Indonesia tersentak paginya ada berita, bahwa Ustad muda yang energik tersebut telah berpulang kerahmatullah, meninggalkan kita semua sebagai teman-temannya untuk selama-lamanya. Dan berita tersebut yang sangat mengagetkan dan sekaligus menyedihkan karena kecelakaan moge (motor gede) yang beliau kendarai sendiri, kecelakaan tunggal menabrak trotoar jalan dan pohon palm, menurut penyelidikan polisi. 

Banyak Kita yang tanpa sadar meneteskan air mata kehilangan dengan cara yang ‘tragis’ dan mendadak tersebut mengingat usia beliau yang masih muda (40 tahun) dan keluarga isteri dan anak-anak 4 orang yang masih kecil-kecil yang tentu saja sangat memerlukan kasih sayang dan bimbingan beliau. Allah SWT tentu lebih mencintai beliau dan telah memanggilnya dari pada keluarga dan kita semua. Pastinya hanya Allah SWT yang tahu arti dan  makna kepergian beliau meninggalkan kita semua  

Selamat jalan Ustad Uje, Ustad Gaul yang telah mengisi relung-relung hati kita yang haus dahaga-kering kerontang- siraman rohani yang mencerahkan untuk semua kalangan, tidak pandang bulu, usia muda maupun tua. 

Walaupun mungkin secara fisik kita tidak pernah bertemu dengan sosok muda yang menginspirasi tersebut, akan tetapi melalui layar kaca minimal kita pernah mendengarkan tausiyah dan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’anul Karim bacaannya, selawat dan qasidah serta lainnya. Sungguh sangat menyejukkan hati dan jiwa kita ditengah kegersangan sekarang ini! 

Semoga kehidupan yang singkat dirimu dapat menginspirasi kami semua untuk berubah mengikuti jalan hidupmu dalam memberikan sesuatuyang terbaik bagi agama, bangsa dan negara ini. 

Hari Jum’at yang penuh kebaikan Engkau pergi Ustad, pergi dengan penuh kebaikan dan kami mengantarmu keharibaan Sang Khalik Allah SWT Azza Wajalla, karena disisiNya Engkau akan memperoleh ketenangan yang abadi. 

“Ya Allah Ya Rabbi Berikanalah tempat yang terpuji disisi Mu bagi Ustad Jeffri Al Bukhori, ampunilah dosa2 dan terimalah amal-amal beliau selama hidup didunia, lindungi keluarga isteri dan anak2 beliau yang masih kecil itu. Engkau Maha menerima do’a2 hambamu Ya Rabb”. Amin Ya Rabbal’alamin.  

Pada kesempatan ini kita yang masih hidup ini ingin belajar hikmah dari meninggalnya Ustad yang kita cintai tersebut. Rasullullah SAW bersabda :
“Wa kaffa bil mauti wa Idhzo” yang artinya, cukuplah kematian sebagai pelajaran atau nasehat.
Pelajaran apa yang bisa petik dari sini adalah : 

(1) Pertama, menurut cerita dari sahabat Ustad, Ustaz Solmed (Soleh Mahmud) dan keluarga, bahwa sudah   beberapa hari kesehatan Ustad Uje menurun (kurang fit/sehat).  Pada malam itu beliau sedikit ‘memaksa’ dengan mengendarai Moge warna hijau miliknya dengan beberapa orang sahabat untuk minum kopi di daerah Kemang dan membicarakan rencana  dakwah. Sempait isteri beliau dalam obrolan melalui hp melarang dan meminta kepada orang tuanya yang dirumah untuk mencegahnya. Tapi beliau tetap kekeh, mungkin itulah pertanda ajal telah memanggilnya. 

Bila kita berbicara dengan ikhtiar/upaya dalam menghindari kecelakaan, terlepas dari nyawa ditangan Tuhan, maka ketika kondisi fisik kita tidak dalam keadaan fit/sehat, kita hendaknya dalam kondisi terpaksa apapun janganlah ‘memaksa’ diri untuk mengendarai kenderaan. Hal ini akan berisiko fatal terhadap kecelakaan. 

Banyak sekali kejadian kecelakaan di jalan raya karena faktor fisik pengendara/sopir yang kelelahan, sakit atau tidak fit. Lebih akhir-akhir ini untuk menjaga stamina perjalanan jauh sopir-sopir memaksa menggunakan minuman2 atau obat2an sejenis syabu2 agar melek terus. Disamping membahayakan nyawa sendiri juga akan berisiko menghilangkan nyawa orang lain di jalan akibat kecelakaan. Banyak sekali korban2 yang jatuh dijalan raya akibat kecelakaan jalan raya. Kecelakaan transportasi jalan raya menduduki ranking pertama sebagai ‘pembunuh’ sekarang ini. 

(2). Kedua, Kita harus memastikan bahwa kenderaan yang kita pakai dalam kondisi laik jalan, sudah mengikuti prosedur ‘maintenance’ rutin yang sesuai. Secara berkala kenderaan yang kita kenderai sehari-hari harus di cek secara berkala. Karena tidak sedikit kecelakaan kenderaan di jalan raya akibat faktor kenderaan yang tidak terawat dengan  baik. Sudah sering kita dengar kecelakaan terjadi akibat rem blong dan lain sebagainya. 

Pada kejadian kecelakaan Ustad Uje sebaiknya harus dilakukan evaluasi kondisi moge sebelum dipakai, karena menurut laporan kelurganya yang kita baca disebuah harian, ustad Uje sempat mengeluhkan kondisi mogenya yang kurang atau tidak baik. 

(3). Ketiga, Kita tidak tahu maksud ALLah menunjukkan kepada kita, bahwa orang baik- setidaknya pandangan kasat mata kita- seperti Ustad Uje mengalami kecelakaan ‘tragis’ dengan moge miliknya. 
Sedikitnya kita bertanya-tanya dan pikiran kita terusik dengan fenomena sosial kaum elite kota akhir2 ini, dimana mareka untuk menunjukkan status sosial dengan identitas atau hobby mempunyai dan mengendarai moge (motor gede). Status ini seakan mempunyai kebanggaan tertentu dan ketika berada di jalan raya seakan menjadi ‘raja’ jalanan. Konvoi moge, tour, rame-rame masih melekat dalam benak kita ketika aktor ternama film kita dan juga mantan anggota DPR alm Sophan Sofian mengalami kecelakaan tunggal moge dalam tour didaerah Jawa Timur. 
Beberapa fenomena yang lainnnya seorang CEO perusahaan ternama juga meregang nyawa dengan mogenya di Jln Sudirman Jakarta sekitar Universitas Atma Jaya. Arogansi moge dijalan raya telah banyak menimbulkan masalah/momok bagi masyarakat. Apalagi kita ketahui pengurus kelompok ini (Klub Moge) terdiiri dari orang-orang penting pejabat, aparat hukum, dan berbagai bidang professi yang secara ekonomi termasuk golongan yang mapan.
Mungkin bagi sebagian orang memiliki moge adalah solusi untuk menerobos kemacetan lalulintas yang parah sekarang ini, akan tetapi sebagian lainnya karena gengsi, pergaulan, uji nyali kecepatan, kesombongan/arogansi dan lain sebagainya. Apa bedanya dengan fenomena Geng Motor yang merebak akhir2 ini? 

Tapi yang jelas semua itu, adalah keberhasilan dari industri otomotif khususnya moge dalam menyasar segmen pasar mareka, kaum elite kota seperti di belahan-belahan dunia lainnya. Seringkali kali kita kadang tidak tega menolak SPG/B (sales Promotion Girls/Boys) ketika setiap menit, jam hari sms, telpon, email, bbm dan berbagai sosial media menawarkan kepada kita brosur dan iklan-iklan Moge dan produk lainnya, apalagi bila kita dikenal sebagai orang ‘dermawan’ yang mampu membelinya. Akibatnya, karena tidak tega membelinya padahal tidak butuh. Dan kalo sudah dibeli pasti suatu ketika ingin menguji nyali dengannya, bukan?!  

Kita menulis disini bukan karena kita iri atau faktor lainnya, sah-sah saja orang mempunyai uang untuk menikmati hidupnya. Dan ‘keegoisan’ tersebut hanya kita sendiri yang bisa dan dapat mengendalikan agar tidak keblablasan.   

Kita menulis disini menggugah sedikit saja fenomena apa sebenarnya hikmah yang bisa kita pelajari dengan meninggalnya Ustad Jeffri Al Bukhori (Uje), karena kita yakin ada maknanya..Tinggal kepada kita bagaimana memaknainya. Wallahu’alam bissawab. 

Jakarta, 29 April 2013
Zulaidin Mas      

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s