SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN PERANAN LEADERSHIP

Oleh : Zulaidin Mas*

“Hubungan manusia dengan lingkungan hidup seperti perilaku anak kecil yang terus menerus meniupkan udara kedalam balonnya sampai melewati batas maksimum, akibatnya meletus”

Interaksi Manusia dan Lingkungan

Proses interaksi antara manusia dan lingkungan telah berlangsung dalam kondisi yang tidak seimbang dalam kurun waktu yang cukup panjang, sepanjang sejarah hidup manusia itu sendiri di planet bumi ini. Ketidakseimbangan terjadi karena manusia sebagai makhluk yang paling aktif dan agresif dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan, sementara lingkungan selalu merespon pasif, artinya setiap tindakan dan aktifitas manusia, lingkungan tidak memberikan respon yang cepat sebagai bentuk perlawanan. Padahal kalau kita amati sebenarnya lingkungan melakukan perlawanan terhadap tindakan dan aktifitas manusia tersebut sampai batas kemampuan daya dukungnya habis, dan ketika itu terjadi, maka lingkungan akan memberikan dampak kerusakan yang sangat fatal bagi kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri. Perumpamaan interaksi manusia dengan lingkungan hidup adalah, seperti perilaku seorang anak kecil yang meniupkan udara ke sebuah balon, bila balon itu terus ditiup sampai melewati batas maksimum, maka balon itu akan meletus. Dan manusia sebagai anak kecil tidak pernah tahu atau tidak mau tahu, bahwa kemampuan balonnya itu terbatas.

Bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah belahan bumi dan negara kita ini yang dirasakan akibatnya oleh manusia, seperti diantaranya banjir besar yang melanda Jakarta tahun 2007 dan yang baru saja terjadi di Situ Gintung Tangerang (2009), telah menjadi bukti betapa dahsyatnya kerusakan dan kerugian yang dapat ditimbulkan. Begitu banyak suku bangsa manusia, spesies hewan dan tumbuhan yang telah tercerabut dari planet bumi ini, akibat dari perlawanan yang diberikan oleh lingkungan. Tenggelam dan hancurnya peradaban Bangsa Mesir kuno yang terkenal megah di dataran sungai Nil Mesir diperkirakan oleh para ahli, diantaranya adalah karena perilaku dari manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan.

Menurut Savory (1999), penggunaan api dan teknologi yang tumbuh cukup menakjubkan dari sejarah peradaban manusia, telah mampu meraih dan menetap di daratan daratan baru atau pulau-pulau terpencil. Menurut laporan terakhir dari masmedia yang kita dengar, bahwa dewasa ini bahkan tidak ada lagi daratan alami (wild nature) yang belum dijamah oleh tangan manusia. Puncak Himalaya yang dikatakan sebagai atap langit itupun telah didaki dan ditancapkan bendera disana, wilayah kutub utara dan selatan tidak luput dari jamahan tangan manusia. Tidak hanya itu, karena agresifnya manusia disertai kemajuan tehnologi yang mareka raih, planet-planet yang lainnya seperti planet Mars juga dicoba diselidiki dan dipelajari untuk kemungkinan hidup dan menetap disana, sampai pada akhirnya mengeksploitasi sumber-sumber daya alamnya. Berdasarkan beberapa hasil penelitian para ahli yang ditulis, dikatakan bahwa dalam 400 tahun dari tibanya suku Maori di daratan New Zealand, mareka telah memusnahkan hampir semua unggas yang tak bisa terbang (flightless birds) termasuk 12 species burung yang berbeda dari unggas raksasa (berat 550 pound) seperti Moa, serta membinasakan sejumlah besar kehidupan daerah pantai. Berikut tibanya suku Aborigin di Australia 40,000 sampai 60,000 lebih tahun yang lalu, lebih dari 80% dari Mammalia genera besar menjadi langka. Penggunaan api secara sengaja oleh suku Aborigin ketika berburu atau untuk membatasi luas dari hutan hujan yang tidak bisa didiami (unhabitable rainforest), telah menggiring secara dramatis meningkatnya erosi tanah.

Secara umum dilihat dari penyebabnya, bencana alam dapat digolongkan atas 2 golongan, yaitu bencana alam yang terjadi secara alami, akibat proses pergerakan dan rotasi bumi dan bencana alam yang disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Bencana alam yang terjadi karena proses alami, contohnya seperti gempa dan tsunami, gunung meletus, angin topan dan lain sebagainya. Tapi sebagian ahli mengatakan bahwa bencana yang terjadi secara alami, itu juga disebabkan oleh adanya kontribusi manusia dalam merusak alam dan lingkungan hidup seperti kerusakan lapisan ozone (O3), apa yang disebut dengan pemanasan global (global warming) sebagai pemicunya. Selain itu bencana alam yang terjadi karena akibat kelalaian dan perilaku manusia (human behavior) yang berdampak besar dapat kita sebutkan seperti pencemaran logam berat Mercury (Hg) di Teluk Minamata Jepang yang dikenal dengan Kasus Minamata (Tahun 1925-1972), Peristiwa Pencemaran Udara di Kota London Inggris yang dikenal dengan peristiwa Smogefog (tahun 1950-1960an), kecelakaan reaktor nuklir Chernobyl (26 April 1986), kecelakaan gas Isocynate dari Union Carbide Bhopal India, tumpahan minyak ke laut yang mencemari perairan seperti yang terjadi dengan kapal tangker Exxon Valdex USA. Di negara kita sendiri sejumlah peristiwa yang telah memakan korban yang tidak sedikit seperti banjir bandang di Langkat Sumut, kasus Teluk Buyat, TPA Sampah Lawe Gajah di Bandung, Lumpur Lapindo dan terakhir Situ Gintung.

Manusia Sebagai Makhluk Pembelajaran

Sebagai makhluk yang belajar dari pengalaman sejarah masa lalu dari generasi ke generasi, mulai timbul kesadaran manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan, setelah menerima akibat-akibat yang ditimbulkan. Kelebihan otak dan akal budi yang di miliki manusia telah melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bidang ilmu pengetahuan lingkungan yang lahir dan berkembang pesat sebagai akibat interaksi manusia dengan lingkungan, mempelajari bagaimana manusia dapat mengelola lingkungan dengan baik, mengerti dan memahami karakteristik dari hakikat perubahan alam sebagai suatu sistem kesatuan yang terpadu (integrated system). Maka sejalan dengan itu pada awal tahun 1970an lahirlah organisasi dan Badan Dunia (PBB) United Nation Environment Program (UNEP), bagaimana mensiasati bahwa pembangunan dari suatu negara dapat berjalan terus sementara lingkungan tidak rusak, yang kemudian kita kenal dengan kebijakan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan (environmental sustainable development). Dalam publikasi The World Conservation Strategy atau Strategi Konservasi Dunia Tahun 1980 (IUCN/UNEP/WWF, 1980) yang diterbitkan oleh UNEP bekerjasama dengan IUCN – World Conservation Union dan WWF pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, diartikan sebagai upaya perbaikan mutu dari kehidupan manusia dengan tetap berusaha tidak melampaui kemampuan ekosistem daya dukung kehidupan dari lingkungannya.

Hukum Keseimbangan Alam

Seorang professor ilmu lingkungan di Western Washington University USA, J. Richard Mayer dalam bukunya Connections in Environmental Science terbitan tahun 2001 menulis kalimat sebagai berikut : “Many people took what they needed from the earth – and often did not think about giving anything back”. Kalimat ini seolah ingin memberikan suatu peringatan kepada kita, ditengah kondisi yang terus menerus mengalami musibah bencana alam ini, bahwa manusia kebanyakan berperilaku hanya bisa meng’ekploitir’ sumber daya alam untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan hidupnya secara egois, tanpa mau memperdulikan apa yang harus dikembalikan kepada alam tentang apa yang telah diambilnya. “Kebanyakan manusia hanya berpikir apa yang mareka butuhkan dari alam dan sering mareka tidak berpikir untuk memberikan kembali tentang apa yang mareka ambil dari alam tersebut”, demikian kira-kira terjemahan bebasnya.

Setiap sistem di lingkungan alami saling kait mengait dan berinteraksi sehingga terjalin suatu keharmonisan dan keteraturan yang sedemikian rupa. Ahli ekologi mengatakan, keanekaragaman hayati adalah merupakan faktor yang menjamin kelangsungan ekosistem. Terputusnya mata rantai makanan (food chain) akibat kerusakan lingkungan, baik yang terjadi karena bencana alam dan tindakan manusia akan menyebabkan terganggunya ekosistem. Habitat flora dan fauna mengalami degradasi dan akhirnya menjadi langka dan bahkan punah. Kalau kita coba telusuri kehidupan di alam makhluk hidup (biotik) dan tidak hidup (abiotik), akan terlihat kepada kita bahwa semua jenis makhluk yang ada ‘saling memberi’ dan ‘saling menerima’ dari alam ini. Ada aliran energi dalam mata rantai makanan yang tidak terputus. Mareka semua mengambil yang ada di alam sesuai kebutuhannya, sehingga keseimbangan alam itu sendiri akan tetap terjaga dan lestari. Dalam batas tertentu alam akan dapat memperbaiki dan memperbaharui dirinya. Sebagai contoh harimau, dia memakan mangsanya rusa, domba atau sejenisnya sampai batas ia kenyang. Setelah itu cukup, tidak pernah berlebihan. Sebagian tumbuhan (flora) mengambil secukupnya dari alam, akan tetapi memberikan lebih banyak kepada manusia berupa buah, umbi-umbian dan butiran padi, gandum dan lain-lain; demikian juga fauna (ikan misalnya) dan lain sebagainya. Pemberian mareka berupa makanan yang selalu dapat diperbaharui (renewable resourses) itu merupakan ‘zakat’ mareka sebagai makhluk ciptaan Tuhan kepada manusia dan sesamanya. Berapa banyak flora & fauna serta makhluk lainnya yang telah memberikan dirinya kepada manusia, tidak terhitung banyaknya. Dan makhluk manusialah yang paling banyak menerima.

Kemiskinan Vs Keserakahan

Manusia berbeda, begitu banyak yang di ambilnya dari alam dengan cara menguras dari sumberdaya alam flora-fauna, barang tambang dan lain sebagainya, baik yang dapat diperbaharui (renewable resources) maupun yang tidak dapat diperbaharui (irrenewable resources). Apakah manusia tidak pernah puas dan kenyang? Masalahnya tidak hanya disitu, meningkatnya populasi manusia akan berdampak pada penyediaan lapangan kerja untuk menyediakan sumber pendapatan bagi konsumsi mareka. Ketika kesempatan kerja berkurang, pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat, peluang tidak ada; maka mareka akan melirik sumber daya alam apa yang masih tersedia disekitarnya. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat menyebabkan meningkatnya kemiskinan masyarakat dan akan berpengaruh pada pengrusakan dan pengurasan sumberdaya alam. Kalau ini terjadi dapat dimaklumi, paling mareka akan makan samapi batas kenyang, akan tetapi yang banyak terjadi di negara kita ini apa yang disebut praktek KKN (Kolusi Korupsi dan Nepotisme) yang melibatkan banyak Penguasa/Pejabat dari level yang rendah sampai tinggi, Aparat, Eksekutif sebagai pemegang kekuasaan, mengambil keuntungan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Sementara masyarakat yang tidak mempunyai akses terhadap sumberdaya alam dan kekuasaan negara makin termarjinalkan. Pengaruh yang paling besar adalah kemiskinan struktural, sebab kemiskinan jenis ini dampaknya sangat luas dalam masyarakat. Fakta menunjukkan, kemiskinan terjadi bukan karena tidak ada uang tapi karena uang yang ada tidak sampai menyentuh kepada orang-orang miskin. Bukan karena kelangkaan Sumber Daya Alam (SDA), tapi karena distribusi yang tidak merata. Sistem ekonomi kapitalis telah membuat 80% kekayaan alam dikuasai oleh 20% orang, sedang 20% sisanya diperebutkan 80% rakyat (Sukardi Hasan, Media Indonesia 8 April 2008).

Pola KKN dalam penguasaan sumberdaya alam negara kita tidak hanya berskala nasional, tapi juga berskala internasional. Jhon Perkin dalam bukunya Economic Hit Man (2007) menulis, ada konspirasi internasional untuk menundukkan negara-negara dunia ketiga yang kaya sumberdaya alam terutama minyak dan gas untuk tunduk pada keamauan superpower dan sekutunya, apa yang disebut oleh dia dengan istilah Korpotokrasi, yaitu kolusi korupsi yang melibatkan Negara Pemberi Pinjaman, Lembaga Bantuan Ekonomi, perusahaan Jasa Konsultan Enjiniring Internasional yang umumnya juga berasal dari pemberi dana; mareka bersekongkol bersama-sama ’mengikat’ dunia ketiga termasuk Indonesia dalam pinjaman utang sehingga tidak mampu membayar dan selanjutnya menjeratnya dengan ’mendikte’ kebijakan ekonomi dan politik untuk kepentingan mareka.


Kearifan dan Tanggung Jawab

Kearifan lingkungan yang dituntut pada manusia, yaitu agar ‘tidak mengambil terlalu banyak’ dari apa yang dapat diberikan lingkungan kepada manusia. Kemampuan lingkungan untuk dapat mendukung kehidupan yang berada di dalam suatu sistem disebut dengan daya dukung lingkungan. Daya dukung lingkungan sangat tergantung pada komponen lingkungan yang menyusunnya. Interaksi antara komponen lingkungan membentuk suatu komponen ekosistem yang stabil biasanya terdiri dari berbagai ragam makhluk hidup dan berkembang biak dengan baik. Kesejahteraan hidup manusia juga sangat tergantung bagaimana kondisi alam lingkungan yang didiaminya. Lingkungan hidup yang sehat adalah lingkungan yang menjaga ekosistem dengan baik sesuai dengan fungsi komponen lingkungan yang membentuknya.

Pada sisi lain manusia sebagai pembuat kebijakan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan haruslah mampu memahami konsep lingkungan hidup dengan benar. Kebijakan lingkungan yang lahir dari kesadaran untuk melindungi dan menjaga lingkungan dengan baik, tentu saja lahir dari manusia yang mengerti arti pentingnya masalah-masalah lingkungan, tidak hanya pada tataran ‘retorika issue politik populis’ untuk tujuan politik sesaat, akan tetapi jauh kedepan untuk kesejahteraan dan kelestarian lingkungan bagi anak cucu kita kelak. Melihat begitu banyaknya korban akibat bencana alam dan kerusakan lingkungan, maka kebijakan, visi dan misi lingkungan dengan komitmen yang bagaimanakah yang ingin kita capai ditahun 2009 oleh seorang pemimpin yang baru kita, atau muka yang lama dengan visi yang baru?. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka faktor kepemimpinan manusianya sangat menentukan.

Sistem Manajemen Lingkungan

Sebagian besar manusia tidak mengerti tentang kemampuan daya dukung lingkungan sama seperti anak kecil yang tidak mengerti kemampuan dari balonnya itu. Proses penyadaran masyarakat terhadap pentingnya masalah lingkungan harus dilakukan terus menerus dalam suatu sistem manjemen yang baik dengan melibatkan semua stakeholders. Kelemahan di dalam manajemen pengelolaan lingkungan sangat terkait dengan kelemahan dari sistem manajemen mulai dati top leadership manajemen sampai ke pelaksanaan dan sistem controlling. Kalau kita gambarkan sistem manajemen yang mengadopsi pada sistem manajemen berbasis lingkungan, maka suatu siklus manajemen lingkungan terpadu akan terlihat seperti pada Gambar  1 &2.

GambarGambar

Gambar  1 &2. Siklus Sistem Manajemen Terpadu Menyeluruh (Kemas)

Secara garis besar pelaksanaan dari sistem manajemen lingkungan meliputi penerapan dari setiap kebijakan lingkungan (environmental policy) yang ada, menyusun perencanaan yang baik (Planning) yang terdiri dari aspek legal, tujuan dan target-target dari rencana serta program-program pengelolaan lingkungan yang seperti apa yang ingin dilakukan. Selanjutnya melaksanakan dari rencana-rencana kegiatan tersebut (implementation) dan untuk itu perlu adanya pengorganisasian dan tanggung jawab, pelatihan-pelatihan bagi personil, kesadaran dari pentingnya pengelolaan lingkungan hidup yang akan melahirkan manusia yang cukup berkompeten di bidangnya, membangun komunikasi, dokumentasi dan prosedur pengawasan terhadap dokumen-dokumen penting serta pengawasan operasional secara luas dan hal-hal yang bersifat emergensi respon. Setelah berjalan maka harus ada semacam tindakan-tindakan perbaikan (corective actions) dengan melakukan pemantauan dan pengukuran kinerja ataupun tindakan pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan atau kesalahan. Secara perodik manajemen puncak melakukan review untuk mencari penyebab-penyebab kesalahan/penyimpangan dan mencari solusi pemecahan untuk pelaksanaan kedepan yang lebih baik.

Peranan Leadership

Siklus ini akan berputar terus dari waktu ke waktu dan terus mengalami peningkatan atau kemajuan dalam pelaksanaan yang lebih baik dan lebih baik lagi (continuous improvement). Kata kuncinya hari ini harus lebih baik dari kemarin dan besok harus lebih baik dari hari ini. Penerapan sistem manajemen lingkungan ini akan berjalan dengan baik apabila kepemimpinan manajemen puncak mempunyai komitmen yang kuat dalam menjalankan kebijakan-kebijakan yang dibuatnya dengan baik. Melihat dari tahapan siklus diatas kita agaknya masih pesimistis tentang masalah kondisi lingkungan kita kedepan. W. Lee Kuhre (1995) menulis, bahwa seringkali dalam pengelolaan lingkungan hal-hal yang menyangkut organisasi diabaikan begitu saja. Perhatian yang diberikan terutama pada aspek-aspek teknis dari pengawasan lingkungan dengan mengabaikan segi manusia dan organisasi. Hal ini sangat berbahaya terutama bila melihat fakta bahwa hal yang menyangkut lingkungan seperti limbah berbahaya dapat menjadi topik yang sangat emosional dan merusak. Terkait dengan kasus Situ Gintung Tangerang yang baru saja terjadi, maka terlihat diperlukan wewenang dan tanggung jawab yang jelas dalam pengelolaan situ-situ di daerah masing-masing. Ketersediaan sumberdaya manusia yang mamadai dengan pelatihan dan pengorganisasian, wewenang dan tanggung jawab serta bentuk koordinasi antara organisasi terkait, prosedur tanggap darurat, pengawasan merupakan bagian yang tidak terpisahkan satu sama lain. Akan tetapi, dibalik semua itu yang terpenting adalah kepemimpinan dari manajemen puncak (top leadership management) dengan visi lingkungan untuk dapat mewujudkan semuanya itu !

Kondisi negara kita Indonesia yang terus menerus ditimpa musibah akibat kelalaian manusia (human error) tidak terlepas dari kondisi sumberdaya manusianya yang masih lemah dari banyak sisi. Pertama, kepemimpinan dari manajemen puncak organisasi yang masih lemah dari visi, misi dan kebijakan lingkungannya. Kedua, rencana program-program lingkungan yang akan dilaksanakan. Ketiga, pelaksanaan di lapangan (bagaimana kemapuan sumberdaya manusia), organisasi dan lain sebagainya , Keempat, kegiatan yang terkait dengan pengawasan, baik pengawasan internal maupun eksternalnya bagaimana ?. Kelima, tindakan-tindakan perbaikan dari manajemen lingkungan yang berkesinambungan. Dengan terpilihnya presiden yang baru dengan jajaran kabinetnya dari hasil pemilu 2009 sekarang ini, kita berharap akan ada perubahan-perubahan yang terjadi dari kelemahan manajemen pengelolaan lingkungan yang kita rasakan selama ini yang telah banyak menimbulkan korban.

REFERENSI

1. Kuhre, W. Lee. 1995. Sertifikasi ISO 14001 Sistem Manajemen Lingkungan (Terjemahan), PT. Prenhallindo dan PPM Jakarta.
2. Mayer, J. Richard. 2001. Connection in Environmental Science A Case Study Approach , McGraw-Hill Book Co. – Singapore.
3. Savory, A., Butterfield, J., Holistic Management A New Framework for Decision Making, Island Press, Washington DC, Covelo California, 1999.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s