PEMBANGUNAN BENDUNGAN UNTUK MENGATASI KRISIS PANGAN DAN ENERGI

Tantangan yang sudah menghadang di depan mata bangsa Indonesia sekarang ini adalah  krisis pangan dan energi.  Berbagai upaya harus dilakuan pemerintah untuk mencukupi kebutuhan pangan dan energi masyarakat dalam kerangka meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat . Pembangunan berbagai proyek diantaranya bendungan tujuannya adalah untuk mengatasi kebutuhan pangan dan energi dan akan  berimplikasi luas (multiplier effek) pada pembangunan sektor lainnya antaranya seperti sektor pertanian, perikanan, pendidikan, kesehatan, perdagangan, transportasi, komunikasi, informasi dan lain sebagainya.

Tempat-terindah-di-dunia-Keukenhof-Gardens-Netherlands.-555x366   Agr Korsel (23)

Sebagian besar  masayarakat Indonesia  yang hidup di pedesaan tingkat kesejahteraannya masih rendah. Dengan fasilitilas pendidikan dan infrastruktur angkutan (jalan raya), air minum, listrik dan telekomunikasi yang  kurang bahkan tidak ada sama sekali.  Adapun infrastruktu jalan selama ini banyak yang rusak dan tidak ada dana atau tak ada kemampuan pemerintah daerah untuk memperbaikinya. Sehingga kendala infrastruktur tersebut berakibat sulitnya hasil-hasil pertanian dijual langsung ke pasar dengan harga yang lebih kompetitif. Akibatnya, petani banyak yang terjebak pedagang tengkulak, pedagang menengah (middle class) yang bekerjasama dengan pedagang besar (whole sales), sehingga tidak adanya posisi tawar (bargaining position ) lebih baik bagi petani langsung.  Terlebih lagi dimusim hujan terputusnnya jalan-jalan akibat banjir  menyebabkan barang-barang kebutuhan pokok harganya menjadi melonjak.  Ekonomi berbiaya tinggi (high cost economy) didalam negeri.  Akibat kendala infrastruktur, akhirnya memicu impor  produk-produk mancanegara yang lebih murah dan mudah didapat.  Selain itu untuk mengolah produknya dari bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi dengan nilai tambah (value added) akibat pendidikan yang tidak memadai/kurang dan dan dengan keterbatasan energi listrik.  Pasokan bahan produk lokal dipasar yang terus berkurang,  jika ada pun harganya lebih mahal,  kalah bersaing dengan produk impor yang didapat di pasar super-hyper markets dengan outlet-outlet terdekat perumbuhannya menjamur. Dengan demikian usaha-usaha pertanian rakyat berbasis ekspor modal kecil akan terus hancur dan akhirnya yang mendominasi produk-produk hasil pertanian impor dari yang bermodal kuat.

Kalibata   mstory-banjirhi

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, diketahui mempunyai potensi sumberdaya alam yang cukup besar dengan iklim tropis yang cocok untuk bertanam hampir sepanjang tahun.  Potensi sumberdaya alam dan iklim serta kesuburan lahannya akan dapat memenuhi kebutuhan pangan dan energi bagi penduduknya yang sudah mencapai total 244,814,9 juta Jiwa (2014). Akan tetapi kenyataannya potensi tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya yang akhir-akhir ini makin terasa makin bertambah sulit. Rakyat Indonesia mulai mengalami krisis pangan dan energi. Volume impor produk pangan seperti diantaranya beras, kedelai, jagung, kacang tanah  semakin meningkat, siiring dengan menigkatnya pertumbuhan pola konsumsi masyarakat. Demikian juga kebutuhan energi makin terasa tak mampu dipenuhi oleh PT. PLN (Persero) BUMN yang diberi kepercayaan oleh pemerintah memegang hak monopoli listrik, dengan adanya pemadaman listrik bergilir di beberapa kota besar seperti kota Jakarta, Medan dan lain-lain.

3999148455_55cb906899_z  IMG_0798

Krisis Pangan & Energi

Beberapa puluh tahun silam tepatnya tahun 1986  di masa pemerintahan orde baru, Indonesia sempat merasakan swasembada pangan padi/beras. Setelah masa itu  ekspor hasil-hasil komoditi pangan terutama pertanian terus menurun terutama hasil pertanian rakyat usaha kecil menengah di daerah dan terus berganti dengan swasta korporasi usaha besar (dalam negeri bekerjasama dengan mancanegara). Usaha perkebunan pertanian yang menjadi Badan Usaha Milik Pemerintah (BUMN) juga sulit bersailng dari segi permodalan dan teknologi serta SDM yang memegang peranan.

Potensi sumberdaya air yang besar dari darat berupa sungai-sungai, anak sungai, danau dan rawa-rawa, serta air tanah dalam  serta air laut yang luas selama ini belum memberikan keuntungan signifikan bagi kesejahteraan masayarakat bahkan menjadikan bencana malapetaka banjir di musim hujan dan kering kerontang dan kebakaran hutan  di musim kemarau. Potensi sumberdaya air Indonesia misalnya disampaikan mencapai 75.000 MW. Dari potensi ini yang layak untuk dikembangkan adalah 25.600 MW selebihnya tidak feasible (tidak layak) sementara yang baru dimanfaatkan sampai sekarang ini baru sekitar 5.000 MW atau sekitar 7% dari potensi yang ada (data tahun 2014).

Pembangunan bendungan atau waduk dapat berfungsi untuk keperluaan air irigasi mengairi sawah dan ladang perkebunan rakyat, juga sekaligus dapat sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) telah banyak dilakukan diantara seperti waduk Jatiluhur Purwakarta Jawa Barat, waduk Wonorojo Tulung Agung Jawa Timur dan waduk Batutegi Lampung Selatan. Disamping itu waduk juga dapat menjadi ‘reservoir’ penampung air baku air minum bagi perusahaan air minum daerah, lokasi wisata dan budidaya perikanan keramba apung. Kegiatan yang terakhir keramba apung setelah dikaji potensi manfaatnya meningkatkan income masyarakat sekitar lokasi, namun potensi bahaya kerusakan bendungan lebih besar dari akumulasi sedimen yang ditimbulkan makanan ikan yang merusak struktur fisik bangunan, oleh karena itu tidak disarankan.

Dengan meningkatkan intensitas hujan akhir-akhir ini yang menurut para ahli akibat perubahan iklim global (climate change). Intensitas hujan yang tinggi mulai dari bulan Desember 2014,  Januari-Februari sampai Maret 2015, perkiraan ahli BPPT dan BMKG Indonesia rawan masuknya massa udara dingin atau seruak dingin (cold surge) dari daerah Siberia Rusia bersuhu sangat dingin (sampai minus 50 derajat C) menuju ke daerah Jawa Barat Indonesia bersuhu tropis/panas . Mengakibatkan potensi terbentuknya awan hujan yang banyak dan mengakibatkan banjir yang lebih besar di seluruh wilayah Indonesia. Intensitas hujan yang besar didaerah DAS sungai-sungai besar seperti Barito dengan anak-anak sungainya Busang, Juloi Kalimantan Tengah dan lain-lain telah menyebabkan banjir tahunan merendam daerah Muara Teweh dan sekitarnya. Demikian juga daerah Kabupaten Aceh Utara, hulu sungai Kreung Keureuto di daerah Kabupaten Bener Meriah setiap tahunnya memberikan banjir yang menimbulkan kerugian materi dan bahkan korbn nyawa manusia di muaranya  yang merupakan ibukota Aceh Utara  Kota Lhok Seukon. Pada kedua lokasi ini direncanakan akan dibangun bendungan untuk mengatasi banjir yang terjadi berulang setiap tahunnya di musim penghujan, disamping untuk penyediaan air irigasi persawahan dan ladang masyarakat dan  lain sebagainya.

Pembangunan bendungan pada lokasi yang telah ditentukan kelayakannya akan dapat mengatasi banjir di muara sungai besar yang merendam pemukiman penduduk , menimbulkan kerugian materi  dan bahakan korban nyawa setiap tahunnya.  Hl ini tentu akan membebani pemerintahan setempat setiap tahun dalam mengatasi ddan memperbaiki infastrukstur yang rusak tanpa mengendalikan di hulu sungai dengan membangun bendungan dan dapat mengatasi banjir dan memberi air irigasi bagi masyarakat untuk dapat bertanam di dengan musim tanam yang teratur karena ketersediaan air yang cukup bagi kebutuhan pertanian dan perkebunan. Selain itu energi listrik yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) akan bermanfaat bagi masyarakat untuk meningkatkan usaha industri pengolahan hasil-hasil pertanian-agribisnis-agroindustri (home industri/industri kecil dan menengah) dan berbagai kegiatan pendidikan,  perdagangan, transportasi , komunikasi , informasi dan lain sebagainya.

Keterbukaan informasi dari rencana-rencana proyek yang bermanfaat bagi masyarakat banyak harus terus menerus disampaikan dengan bekerjasama antara komponen terkait dilapangan. Demikian juga satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh pemerintah daerah dan pusat, bahwa terjadinya atau hadirnya suatu bendungan besar yang indah dan banyak manfaatnya adalah disebabkan atas hasil kesediaan beberapa orang  pemilik lahan di daerah lokasi bendungan yang terkena proyek yang telah bersedia menerima pembebasan ganti kerugian (land acquisition) dan bersedia pindah ke tempat lain atau mengikuti program pemukiman kembali (resettlement plan). Kesejahteraan hidup mareka di tempat yang baru juga harus diperhatikan, jangan seperti “peribahasa mengatakan habis manis sepah dibuang”.   Berbicara tentang penghargaan (reward) tentu saja sebagai manusia, tidak hanya selalu dalam bentuk materi, walaupun materi memang sangat dibutuhkan bagi yang kurang mampu.  Wallahu’alam bissawab.

Referensi :

Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s