Kapal Bismillah berjuang mengarungi segala rintangan menuju pelabuhan harapan

MENGUKUR DIRI SAMA DENGAN MENSYUKURI

Dalam kehidupan dunia ini banyak petuah orang tua dulu, kata-kata orang bijak, nasehat dan lain sebagainya, mengatakan kepada kita, pandai-pandailah membawa diri agar kehidupan kita tidak membawa celaka di kemudian hari. Kata kata pandai membawa diri adalah sesuatu yang menunjukkan bahwa kita harus cukup arif dan bijaksana dalam melihat berbagai aspek dari kehidupan agar selalu berhati-hati dan tidak melakukan hal-hal tanpa pikir panjang lantas mengikutinya sampai suatu ketika baru kita menyadarinya, bahwa itu menyebabkan hidup kita menjadi celaka. Kata celaka pada akhirnya, bermakna kehidupan kita didunia ini tidak membawa kita pada apa yang kita ingin dan cita-citakan. Dalam konteks sebagai orang Muslim kehidupan yang dicita-citakan adalah kehidupan bahagia, yaitu kehidupan yang bahagia di dunia dan bahagia di akhirat, sebagaimana yang menjadi cita-cita ummat Islam (Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 201). Bila kita menilik lebih jauh, sebenarnya cita-cita tersebut tidak hanya bagi orang Islam atau Muslim, akan tetapi bagi semua ummat beragama yang mempercayai adanya Tuhan dan kehidupan negeri akhirat, ada balasan buruk- baik dari kehidupan di dunia ini dan adanya balasan syurga (nirwana) atau neraka.

15 - 1 (28)

Kebahagiaan didunia adalah suatu kehidupan yang mampu memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup normal layaknya sebagaimana seorang manusia normal yang perlu makan, minum, belajar,  beribadah/bekerja, istirahat, mendapatkan jodoh,  kawin, berketurunan dan lain sebagainya. Kebahagian di akhirat adalah merupakan balasan dari hasil beribadah/bekerja dengan hati yang tulus ikhlas mengharapkan ridho Allah SWT di dunia, sebagai balasan dari orang –orang yang beriman, masuk kedalam syurga, sebagai tempat tinggal yang paling indah dan paling membahagiakan kekal abadi selama-lamanya.

kapal%2Bbismillah

Dalam melangkah meraih kebahagian dunia dan akhirat, banyak manusia yang salah melangkah. Banyak yang tanpa menyadari yang tadinya dilahirkan dijalan yang benar melangkah ke jalan yang salah atau sesat. Ada juga manusia yang dilahirkan di jalan yang sesat akan tetapi karena perjuangaannya mencari jalan yang benar, dengan sepenuh hatinya, akhirnya menemukan jalan yang benar. Ada juga manusia yang dilahirkan di jalan yang benar dan dengan sepenuh hatinya konsisten (istiqomah) dijalan yang benar tersebut akhirnya tetap berada di jalan yang benar. Akan tetapi ada juga sebagian manusia yang dilahirkan di jalan yang salah/sesat karena konsisten (istiqomah) dengan jalan yang salah/sesat tersebut, maka ia tetap berada di jalan yang salah atau sesat. Kelahiran manusia ke dunia tidak ada yang menghendakinya, mau dilahirkan di keluarga mana, anak siapa, warna kulit apa, suku bangsa apa, dan lahirnya dimana, tidak ada siapapun yang tahu dan menghendakinya. Oleh karena kita tidak tahu dan menghendakinya kelahiran kita kedunia – hanya Tuhan Yang Maha Tahu-, maka karena itu mungkin kita semua waktu lahir menangis.

2015 - 1 (1)

Kesalahan melangkah dalam kebebasan memilih dalam hidup (freedom of choise) sering membawa manusia pada kata-kata penyesalan. Kata penyesalan banyak keluar dari mulut kita setelah melakukan hal-hal yang semestinya tidak dilakukan akibat dari kesalahan membawa diri. Oleh karena itu, dalam menyikapi setiap aspek kehidupan dari zaman yang terus berkembang, kita harus pintar-pintar mengukur dan membawa diri atau me’matut-matutkan diri apakah pantas sesuatu itu menjadi ‘pakaian’ kita dan melakukannya. Berbicara mengukur diri bagi seorang Muslim sangatlah penting, karena dengan itulah dia bisa istiqomah dengan nilai-nilai kemuslimannya dan dengan itu akan memberi arti bagi kehidupannya dan dengan itu ia akan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat yang dicita-citakan.

Bagaimana mengukur diri bagi seorang Muslim? Pertanyaan yang pantas diajukan terkait dengan judul tulisan ini diatas. Mengukur diri bagi seorang Muslim adalah menjadikan dirinya sosok yang lebih pantas menyandang atribut kebesaran nilai-nilai ajaran agama Islam. Sebagaimana kita ketahui, nilai-nilai ajaran Islam itu tinggi tidak ada yang lebih tinggi darinya (Al Islamu yaklu wala yukla alih, hadist). Mematutkan diri dengan nilai ajaran agama dalam berpikir, berkeyakinan, bertindak dan berperilaku sehari-hari, semuanya kalau bisa sesuai dengan ajaran nilai-nilai Islam. Atau dengan perkataan lain tidak ada satupun nilai kita yakini, sikapi dan berperilaku dengan nilai selain nilai ajaran agama Islam. Keyakinan, sikap dan perilaku yang utuh menyeluruh (kaffah) dalam hidup untuk secara konsisten menerapkan dan berusaha menjalankan nilai-nilai ajaran agama dengan sebaik mungkin.

Beberapa ayat-ayat Al Qur’an dibawah yang menuntun kita dalam kehidupan :

“Dan di antara manusia ada yang berdo’a :” Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Al Baqarah 2: 201)

 “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada Hamba-hamba-Nya” (QS Al Baqarah 2: 207)

 “Hai Orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syeitan. Sesungguhnya syeitan itu musuh yang nyata bagimu” (QS Al Baqarah 2: 208) 

Dengan demikian kepribadian seorang Muslim tercermin dari nilai-nilai ajaran agamanya yang hidup ditengah masyarakat. Ia merupakan sosok yang berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Ia sosok yang ‘unique’ yang dibutuhkan dan dicari oleh manusia lainnya untuk diajak kerjasama dalam suatu sistem yang aneka warna manusia. Ia tampil menonjol sebagai sosok pemersatu dengan nilai universal ajaran agamanya yang tidak membeda-membedakan suku agama ras, tidak pernah memaksakan keyakinan dan budayanya kepada bangsa dan kelompok lain, ajaran yang mengajarkan kebenaran, kejujuran, dan keadilan bagi umat manusia.

Mengukur diri dari fisik seorang Muslim adalah pribadi yang pintar merawat kesehatan, karena kesehatan adalah bagian dari iman dan kesehatan fisik tubuh mencerminkan, bahwa sosok tersebut sangat mensyukuri apa yang dikarunia-Nya, sehingga berusaha menjaga kesehatannya, keseimbangan pertumbuhan antara satu bagian anggota tubuh dengan anggota tubuh yang lain. Pintar mengelola kesehatan, memahami ilmu gizi dengan mengkonsumsi makanan –makanan yang halal dan baik (halalan thoiban) bagi kesehatan fisiknya. Bila ia belum mampu memenuhi kebutuhan fisiknya ia akan berusaha bekerja semaksimal mungkin untuk menafkahkan dirinya, kebutuhan fisiknya untuk hidup normal dan baik bersama dengan orang-orang lain sekelilingnya. Demikian juga bila ia telah berkeluarga ia akan berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya untuk hidup normal dan baik dengan cara-cara yang halal dan di ridhoi Allah SWT. Fisik yang baik dari seorang Muslim mencerminkan fisik seorang yang sehat dari tubuhnya tidak mengeluarkan bau yang tidak sedap secara alamiah, akan tetapi mengeluarkan bau alamiah dari seorang lelaki maupun seorang perempuan. Bau alamiah seorang lelaki dijadikan oleh Allah SWT dari kelenjar –kelenjar yang ada didalam tubuh lelaki, akan menghasilkan wangi yang memikat pasangan wanita, demikian juga sebaliknya. Wangi alamiah ini tidak hanya lahir bisa dicium dari jauh tertiup angin akan tetapi dapat mendesir jauh ke pusat syaraf yang apabila bertemu akan melahirkan cinta abadi. Jadi sebenarnya bila tubuh yang sehat akan keluar bau yang tidak perlu memakai minyak wangi yang mahal dan berkesan palsu untuk menutupi bau yang sebenarnya.

2015 - 1 (2)

Berapa banyak duit yang dihabiskan seseorang untuk menutupi bau yang tidak sedap dari ketidakpandaian merawat kesehatan diri, yang apabila duit tersebut digunakan untuk kegiatan lain yang produktif berapa pula hasil dan manfaatnya? Bukan berarti seorang Muslim tidak boleh menggunakan minyak wangi, bukan? Banyak hal dengan menggunakan sesuatu yang harus dipikirkan effeknya. Misalnya  apabila menggunakan minyak wangi untuk tujuan memikat lelaki dan menimbulkan nafsu birahi non Muhrim? Atau ketika seorang Muslim menggunakan minyak wangi ‘kelas tinggi’ (high class) untuk menunjukkan kelasnya, bahwa ia berasal dari kalangan ‘jet set’, bagaimana dia mengukur dirinya, selain ada sesuatu perilaku riya yang berlebihan yang cenderung ke arah cara berpikir ‘hedonis materialis’ yang sangat berlebihan, sementara saudara seagamanya yang lain untuk makan saja susah, apalagi untuk merawat kesehatan. Mengukur diri dengan minyak wangi yang pantas dan tidak berlebihan itulah ajaran yang mungkin paling baik bagi diri seorang Muslim. Ini contoh kecil, contoh lainnya banyak untuk mengukur diri walau mempunyai kemampun dan berkecukupan untuk hidup mewah, akan tetapi selalu ingat dengan saudara-saudaranya yang berkehidupan susah dan sampai tidak bisa makan karena kemiskinan, kesehatan yang berkurang dan lain sebagainya. Kenyataan yang hadir dalam kehidupan masyarakat ini selalu menuntunnya menjadi rendah hati dan tidak sombong serta bersikap mudah memberikan bantuan atas kesulitan saudara-saudaranya tersebut.

1705872840

Merawat kesehatan fisik bagi seorang Muslim sangat penting. Allah telah mengaruniakan fisik seseorang berbeda (unique), tidak ada yang sama persis antara satu manusia dengan manusia lainnya. Keunikan itu semua untuk dirawat dipelihara dan dijaga kesehatannya, agar otot-otot, sel-sel, darah, syaraf-syaraf tumbuh normal menjalankan fungsinya dengan baik, tidak menimbulkan kerusakan yang menyebabkan gangguan kesehatan pada organ-organ tubuh, sehingga tidak berfungsi normal. Apa yang menjadi kendala dalam merawat kesehatan adalah keterbatasan ilmu pengetahuan tentang kesehatan. Pantaskah seorang Muslim yang baik terbatas ilmu pengetahuannya atau dengan perkataan lain bodoh padahal ajaran agamanya menyuruhnya belajar (iqra’) dan fasilitas yang ada dewasa ini tentang ilmu pengetahuan tentang kesehatan tubuh dan makanan yang mendukungnya sangat berlimpah. Mungkin hanya ada satu kata saja, yaitu malas atau tidak tahu ilmu apa saja yang perlu diketahuinya untuk kehidupan yang bahagia? Jadi secara logika, sangatlah sulit bisa diterima akal bila ada yang diantara Muslim yang terlihat fisiknya tidak berimbang pertumbuhannya, terlalu gemuk atau terlalu kurus, karena ajaran agama sangat memperhatikan keseimbangan (balance) dalam kehidupan, sederhana dalam makan, tidak berlebihan, sementara saudara kita yang lainnya ada yang tidak bisa menikmati makanan yang lezat-lezat berlemak, protein tinggi penuh selera itu.

Contoh kepribadian seorang Muslim sebagai panutan (idola). Sebagai panutan (idola) pasti yang nampak dari luar sekilas dari pandangan mata (visual) akan mencerminkan sosok tersebut. Pertama yang menjadi ukuran manusia yang mengidolakan adalah tentu saja dari fisik dan pakaiannya seorang Muslim.  Sebagai seorang Muslim dan beriman tentu saja penampilan fisik dan mempunyai pakaiannya sendiri. Sosok fisik tubuh yang dilahirkan dalam keadaan telanjang, polos tanpa busana apapun, tentu saja harus ditutupi dan dibalut dengan pembalut tubuh yang sesuai dari berbagai jenis kain tenunan hasil kreasi dan ciptaan manusia. Pakaian atau busana adalah pembalut tubuh yang dapat memberikan kenyamanan dari rasa dinginnya udara, dari gigitan aneka serangga, dari berbagai gangguan yang dapat mengganggu kesucian, kebersihan tubuh serta memberikan kenyamanan, keindahan dan bahagia hati manusia yang memakainya. Orang Muslimin dan Muslimat tidak berpakaian hanya sekedar berpakaian, akan tetapi ia berpakaian untuk menjaga dan memelihara kebersihan anggota tubuhnya dan menjaga dan memelihara kesucian hatinya agar selalu dalam kenyamanan dan kebahagiaan yang menjadi cita-cita dalam hidupnya. Berpakaian untuk menjaga kesucian fittrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang dilahirkan ke dunia dalam keadaan fittrah yang suci dan mulia. Berpakaian untuk mengangkat harkat dan martabat dirinya sebagai manusia. Ketika dilahirkan dalam keadaan bertelanjang, tak berpakaian dan ketika kematian dalam keadaan berpakaian yang suci putih bersih (kain kafan). Ukuran pakaian seorang Muslim (lelaki) dan Muslimah (perempuan) seperti yang disebutkan dalam Al- Qur’an surah An Nuur suarat ke 24 ayat 30-31).

“Katakanlah orang lelaki yang beriman:”Hendaklah mareka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mareka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mareka perbuat” (QS Al Nuur 24:30).

“Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mareka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mareka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mareka, atau ayah mareka, atau ayah suami mareka, atau putara-putra mereka, atau putra-putra suami mareka, atau saudara-saudara laki-laki mareka, atau putra-putra saudara laki-laki mareka, atau putra-putra saudara perempuan mareka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mareka memukulkan kaki agar diketahui perhiasan yang mareka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman supaya kamu beruntung” (QS An Nuur 24: 31).

Itulah ukuran pakaian seorang Muslim beriman, ia selalu mengukur diri dengan ukuran keyakinan imannya, keyakinan yang membawa kehidupan bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Mengukur diri agar pantas menjadi Muslim yang baik, tentu saja sangat penting, karena akan memberikan suatu nilai-nilai hidup yang penuh dengan ridho Allah SWT. Mengukur diri bagi seorang Muslim artinya menyesuaikan diri antara keseimbangan fisik yang sehat dengan pakaian yang menutup aurat dan perilaku dan karakter yang mulia dan terpuji yang lahir dari keagungan ajaran-ajaran nilai Islam yang  tinggi dan agung dari Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Agung.  Mengukur diri dengan nilai yang pantas adalah mensyukuri atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tidak pernah putus-putusnya kepada manusia, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an :

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya :”Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan Pengikut-pengikutnya), mareka menyiksamu dengan siksa yang pedih, mareka menyembelih anak-anak lelakimu,  membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu” (QS Ibrahim 14:6)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”

2015 - 1 (2) (2)

Islam bukan berarti manusia dalam hidup tidak boleh memiliki harta (materi) yang banyak. Materi diperlukan asal diperoleh secara benar dan dengan usaha yang di ridhoi-Nya, untuk dapat membantu banyak manusia lain yang tidak beruntung. Tapi apapun yang diterima sebagai karunia Allah yang selalul di syukuri dan tidak hidup berlebihan. Hidup dengan bermurah hati akan menambah kekayaan jiwa yang tak berbatas yang sungguh melimpah dalam kebahagiaan sebagai makhluk Tuhan yang mempunyai fittrah yang mulia.

In shaa Allah, Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Jakarta, 19 Januari 2016

Zulaidin Mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s