AGRIBISNIS

AGRIBISNIS & PERMASALAHANNYA

Pengertian Agribisnis (Agribussiness)

Menurut Downey, W.David & Erickson, Steven P (1992) dalam bukunya Agribussiness Management , penegrtian dari Agribisnis adalah merupakan sektor perekonomian yang menghasilkan dan pendistribusian masukan bagi pengusaha tani, pemasaran, pemrosesan serta pendistribusian produk usaha tani kepada pemakai akhir (end users).  Agribisnis dibagi atas tiga sektor yang saling tergantung satu sama lain secara ekonomis, yaitu sektor masukan (input), sektor produksi (farm) dan sektor keluaran (output). Sektor masukan (input) menyediakan perbekalan kepada para pengusaha tani untuk dapat memproduksi hasil tanaman dan ternak.  Sebagai contoh bibit, makanan ternak (pakan), pupuk, bahan kimia, mesin pertanian, bahan bakar dan banyak perbekalan lainnya. Sektor usaha tani (farm) memproduksi hasil tanaman dan ternak yang diproses dan disebarkan kepada konsumen akhir oleh sektor keluaran (output).

Indonesia merupakan negara agraris yang sangat potensi dengan usaha agribisnis meliputi semua bidang seperti bidang pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan. Luas lahan dan iklim yang sangat baik sebagai tempat usaha dimana hampir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk berusaha di lahan pertanian. Sangat berbeda dengan kondisi iklim di daerah sub tropis yang mempunyai musim dingin (salju) dengan cuaca yang sangat dingin. Begitupun potensi luas lahan yang ada serta iklim yang mendukung tidak lantas Indonesia dapat menghasilkan produk-produk agribisnis yang melimpah dan berkualitas. Bahkan beberapa tahun terakhir ini, pemerintah harus melakukan impor bahan-bahan makanan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, seperti kebutuhan daging yang belum mencukupi kebutuhan masyarakat terutama di hari-hari besar seperti kebutuhan hari raya ‘Idul fittri, ‘Idul Adha, Natal dan Tahun Baru. Kebutuhan jenis makanan utama  seperti beras, kedele, jagung, singkong  harus dicukupi dari luar. Demikian juga kebutuhan buah-buahan masyarakat banyak diimpor dari negara lain. Sebagai contoh, data terakhir dari BPS yang dikutip DetikFinance, impor buah Indonesia dari Januari hingga November 2012 sebanyak 759,5 ribu ton dengan nilai US $ 814,9 juta, dengan komoditi buah yang paling banyak diimport adalah Jeruk Shantang, Apel, Lengkeng, Anggur, Pir, Durian, Kurma, Jeruk, Buah Naga dan buah Kiwi.

bisnis1 013   205  Agr Korsel (21)Gambar 1. Usaha Agribisnis Peternakan Sapi, Ayam dan Budidaya Tanaman

Kebijakan Pembangunan  Ekonomi

Iklim pembangunan ekonomi di Indonesia boleh dikatakan baru berlangsung selama periode Orde Baru (Orba) zaman pemerintahan Soeharto yang berlangsung lebih kurang 32 tahun (1966 s/d 1998), mengakhiri konflik yang berkepanjangan masa revolusi zaman pemerintahan Presiden Soekarno (1945-1966).  Pada periode awal masa pemerintahan Soeharto, pertanian pernah menjadi swasembada kebutuhan beras tanpa harus mengimpor dari luar yaitu pada tahun 1985,1986 dan 1993. Setelah itu, era pemerintahan reformasi setelah Soeharto di gulingkan oleh rakyat karena pada masa-masa akhir periode pemerintahan pengelolaan negara semakin otoriter dan perhatian terhadap pertanian semakin sulit akibat praktek-praktek KKN oleh penyelenggara negara yang demikian merajalela.  Namun pada keadaan diperparah pada pertengahan 1997 badai krisis ekonomi melanda Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara dan Asia Timur.  Kondisi produksi hasil pertanian Indonesia makin terpuruk.  Kurs mata uang Rupiah terpuruk 1 Dollar ($) menjadi Rp.11.500 pada tahun 1998 tertinggi selama ini.  Pemerintahan Habibie yang melanjutkan masa sisa pemerintahan Soeharto berhasil menstabilkan nilai rupiah, akan tetapi persoalan lepasnya Timor Timur akibat menyetujui referendum tuntutan rakyat Timor Tmur menuai ketidak percayaan di parlemen. Elite politik sibuk bersaing  untuk memperoleh kekuasan yang menyebabkan pucuk kepemimpinan berganti, antara KH Abduraahman Wahid yang didukung Poros Tengah dimotori Amin Rais dan kubu Megawati dari massa PDIP  bersaing untuk memerintah. Tidak stabilnya kepemimpinan makin tidak adanya political will yang memadai terhadap masalah-masalah pertanian. Selama masa pemerintahan Megawati usaha-usaha pemulihan ekonomi dengan membuka keran investor untuk masuk menanamkan investasi untuk menggerakkan roda pembangunan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.  Pada masa krisis tersebut banyak asset negara dan bahkan yang bersifat strategis seperti telekomunikasi, pertambangan,perkebunan, properti/real estat  dan perbankan dikuasai dan menjadi milik asing. hal ini berlangsung terus sampai Pemerintahan SBY-JK dan SBY -Budiono keran investasi dibuka lebar untuk menarik investor menanamkan modal untuk mengejar pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi yang bernjak pelan menimbulkan pemikiran kritis dari para ekonom dan sebagian elite politik tentang ideologi yang dianut dalam pembangunan ekonomi ekonomi Indonesia. Ideologi Kapitalis-Liberalis mencuat yang menimbulkan dampak pada kesenjangan ekonomi antara rakyat banyak di desa-desa dengan kehidupan segelintir elite di pusat pemerintahan. Praktek KKN dan korupsi semakin parah dan terbuka melibatkan partai politik dan lembaga negara yang melahirkan yang akhirnya lahir Badan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dimulailah terbukanya kedok-kedok kasus besar yang mendera bangsa ini yang menggambarkan bagaimana sebenarnya elite politik mengelola negara yang kaya sumberdaya alam ini, tapi rakyatnya menderita dalam kemiskinan.

Sekarang Indonesia menjadi negara pengimpor beras, berbeda dengan Vietnam yang berhasil membalikkan keadaan dari negara yang krisis pangan, sekarang menjadi negara pengekspor beras nomor dua dunia. Dari beberapa pemerintahan sepertinya kabinet pemerintahan lebih mengejar pertumbuhan sektor industri dari pada sektor pertanian dan agribisnis. Berbeda di negara-negara industri yang telah maju, pembangunan lebih diarahkan  memperkuat sektor pertaniannya dengan home industri/agro industri  kemudian baru melangkah ke sektor industri berat dan canggih. Kita lebih memilih tembak langsung ke industri berat dan canggih dengan proyek industri pesawat terbang dan ruang angkasa. Industri yang terkait pertanian terseok-seok didera kesulitan pengolahan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi yang mempunyai nilai tambah (value added). Akibatnya banyak usaha pertanian yang langsung kita ekspor bahan baku seperti minyak kelapa sawit, minyak kelapa atau kopra, coklat, cengkeh, nilam, produki hasil peternakan, perikanan, kehutanan, pertambangan  dan lain sebagainya.  Nilai tambah dinikmati oleh negara lain yang kemudian memasukkan lagi ke negara kita menjadi berbagai produk olahan dengan nilai tambah dan harga bersaing di pasar-pasar kita. Ditambah dengan mindset masyarakat kita yang senang memakai produk luar negeri, maka semakin terpuruklah harga jual produk kita sendiri.

Agr Korsel (23)      Agr Korsel (25) Tanaman Padi dan Kacang Tanah

Untuk membalikkan fakta menjadi sebagai negara swasembada beras seperti beberapa puluh tahun yang lalu,  tidak sebagai pengimpor negara pengimpor beras saja, bagi Indonesia tidaklah mudah. Rencana dan sering didengungkan oleh Departemen Pertanian swasembada beras dapat diwujudkan pada tahun 2014. Akan tetapi sejumlah fenomena berupa alih fungsi lahan pertanian yang  membabi-buta, anomali iklim yang kian sukar diprediksi, perkembangan penyuluhan pertanian yang mengenaskan, juga dukungan anggaran, khusus nya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) yang minim terhadap sektor pertanian, menyebabkan kerisauan itu menjadi semakin memupus rasa optimis masyarakat. Apalagi pada tahun 2014 konsentrasi  pemerintah lebih terpusat pada pesta demokrasi pemilihan umum. Dengan demikian sektor pertanian/agribisnis diperkirakan akan makin menjadi ‘anak tiri’ di rumahnya sendiri.

Tantangan Sektor Pertanian Kedepan

Mengutip data dari Badan Statistik Pusat (BPS) Mei 2012, sektor Pertanian dapat menyerap tenaga kerja mencapai 41,20 juta jiwa atau sekitar 43,4% dari total jumlah penduduk. Hal ini mengalami peningkatan sebesar 4,76% atau 1,9 juta dibandingkan bulan Agustus 2011.  Dari data tersebut Indonesia menduduki urutan ke-3 sebagai negara terbanyak tenaga kerja di sektor Pertanian atau peningkatan pangan setelah China (66%) dan India (53,2%). Akan tetapi besarnya tenaga kerja di sektor pertanian tidak diikuti oleh alokasi anggaran negara di sektor ini untuk meningkatkan hasil produksi pertanian. Sebagai contoh tahun 2013 alokasi anggaran program di sektor pangan sebesar Rp. 83 Triliun atau sepertiga dari anggaran belanja pegawai yang besarnya mencapai Rp.241 Triliun. Sehingga anggaran tersebut hanya mencukupi untuk jenis stabilisasi harga pangan-pemenuhan kebutuhan rakyat dengan nilai Rp.64,3 Triliun dan pembangunan irigasi sebesar Rp.18,7 Triliun.  dengan anggaran sebesar 7% dari total anggaran APBN 2013, mustahil dapat menyelesaikan berbagai persoalan termasuk persoalan tenaga kerja, sumberdaya manusia di bidang pertanian. Berdasarkan acuan dari Organisasi Pangan Dunia (FAO) sektor pangan akan berkembang baik dengan alokasi anggaran sebesar 20% dari total anggaran.

Ratifikasi kebijakan perdagangan bebas yang cenderung menghilangkan perlakuan non-tarif barrir juga cukup berdampak pada sektor pertanian, baik ditingkat mikro (usaha tani) maupun ditingkat mikra (kebijakan nasional), dimana negara kurang berhasil memproteksi petani, sementara negara maju lebih berhasil memproteksi petani mareka. Rendahnya biaya produksi, skala usaha, tenaga kerja skill terlatih, penggunaan teknologi menghasilkan kualitas hasil produksi yang dapat meningkatkan daya saing komoditas mareka di mancanegara.

Tantangan sektor pertanian kita kedepan adalah bagaimana meningkatkan daya saing komoditas pertanian dengan karakteristik produk yang sesuai dengan keinginan konsumen (customer needs). Dengan memiliki daya saing yang tinggi di pasar domestik atau pasar mancanegara barulah kita dapat menjadi negara pengekspor pangan masa depan. Sementara kita bermimpi dulu untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri sendiri (swasembada) pangan dan sampai kapan kita harus tergantung pangan impor sementara sumberdaya alam kita demikian berlimpah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s