OPINI

BANJIR & PROBLEMA SAMPAH DOMESTIK DKI

Jakarta sebagai Ibukota negara Indonesia hampir setiap tahun mengalami banjir pada musim hujan antara bulan Desember-Januari -Februari,  saat intensitas curah hujan cukup tinggi daerah hulu (kawasan Jabodetabek atau Puncak Bogor sekitarnya) ditambah dengan di daerah DKI sendiri. Air hujan mengalir deras dari hulu tidak mampu ditampung oleh bendung Batulampa Bogor (Tingkat Siaga III, II dan I) harus dilepas ke sungai antaranya Ciliwung dan anak-anak sungainya  ke hilir kota Jakarta yang padat penduduknya. Tumpahan air dari hilir dan langit Jakarta dalam satu hari hujan saja yang begitu deras bisa mencapai 1500 mm perjam itu, tidak mampu ditampung oleh sungai-sungai di hilir (Sungai Ciliwung, Sunter, Cipinang, Pasanggrahan, Kramat Jati) serta Banjir Kanal Timur (BKT) dan Banjir Kanal Barat (BKB) di daerah kota Jakarta yang keadaannya sudah rusak parah (terjadi penyempitan dan pendangkalan) oleh pemukiman penduduk yang padat . Akibatnya, air meluber kemana-mana membanjiri daerah pemukiman penduduk Jakarta, daerah bisnis perdagangan sepanjang jalan , Jl. KH Abdullah Syafei/Casablanca, Jl.Sudirman, Jl.Kuningan, Jalan Thamrin menyambangi wilayah perkantoran dan bahkan bertandang sampai ke Monas, Istana Negara, kawasan Pluit Jakarta Utara. Dikawasan Pluit Banjir tidak bisa mengalir langsung ke laut akibat pasang naik air laut (Rob) sehingga masyarakat harus menunggu beberapa hari sampai pasang surut meskipun banjir kiriman sudah mereda sebelumnya.

Periode banjir yang paling parah melanda Jakarta pada tahun 2007 dan berulang pada pertengahan Januari kemarin tahun 2013. Banjir tahun 2007  melanda wilayah DKI diperkirakan sekitar 70% dari wilayah DKI mengalami kebanjiran. Dampaknya kerusakan infrastruktur dan perekonomian warga kota Jakarta trilyunan rupiah.  Begitu juga pada pertengahan Januari 2013 yang baru lalu banjir telah merendam sebagian besar kota Jakarta, walaupun menurut data yang ada tidak separah atau seluas banjir pada tahun 2007. Akan tetapi yang menjadi berita paling menggegerkan sampai ke mancanegara, banjir kali ini sempat menggenangi daerah trade marknya kota Jakarta Bundaran Hotel Indonesia (HI) dengan ketinggian air selutut orang dewasa . Tidak hanya itu akan tetapi sempat merendam Istana Negara, sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus membatalkan janji untuk menerima tamu kehormatan Presiden Argentina serta dengan baju santai, menyangkat celana setinggi lutut memberi komando untuk mengantisipasi dan menanggulangi banjir sebagai respon gawat darurat.

mstory-banjirhi  images  presiden-sby-bersama-menteri-luar-negeri-marty-natalegawa-meninjau-_130117165650-264 Banjir Pertengahan Januari 2013 yang Merendam Bundaran HI, Kawasan Monas dan Istana Negara

Telah banyak saran dan masukan yang ditulis tentang penanggulangan banjir di Kota Jakarta. Diantaranya adalah yang berkaitan dengan penanganan fisik dan kondisi sungai-sungai, kanal BKT dan BKB, saluran drainase,  waduk-waduk penampung air yang ada  dimana jauh dari kondisi normal dan memadai.  Misalnya pembangunan BKT berlarut-larut penyelesaiannya disebabkan pembebasan lahan masyarakat dimana tidak adanya  kesepakatan ganti kerugian lahan masyarakat yang terkena. Normalisasi sungai terhalang bangunan yang telah berdiri lama sepanjang bantaran sungai-sungai diantaranya sungai Ciliwung sebagian badan sungai mengalami penyempitan oleh bangunan penduduk dan terjadi pendangkalan dari sampah-sampah rumah tangga (domestik) yang dibuang langsung ke sungai.  Kondisi sungai tersebut pada musim kemarau terlihat gundukan-gundukan pasir sedimen yang menyebabkan sungai menjadi dangkal dan pada daerah tertentu seperti di daerah Bukit Duri Kampung Melayu Kecil, Kampung Polu, Kalibata merupakan daerah langganan banjir setiap tahunnya sangat rapat pemukiman penduduk di pinggir sungai Ciliwung , begitu juga didaerah yang lainnya.

Kp Melayu Kecil    Kalibata Banjir Kali Ciliwung di kampung Melayu Kecil dan Daerah Kali Bata

Perilaku Warga DKI  Dalam Membuang Sampah

Sebagaimana kita ketahui masyarakat Jakarta terdiri dari masyarakat urban yang datang mengadu nasib ke Ibukota Negara Jakarta karena sulitnya mendapat pekerjaan dan kesempatan kerja/usaha di desa-desa tempat kelahirannya di seluruh Nusantara. Kaum pekerja datang ke Jakarta bekerja sebagai pekerja kasar (buruh) di banyak bangunan Perkantoran, Mall, Apartemen dan lain sebagainya, datang sendiri maupun diajak oleh teman-temannya yang sudah bekerja sebelumnya.   Begitu juga dengan kaum terpelajar, mahasiswa  yang telah menyelesaikan pendidikan di Perguruan-perguruan tinggi banyak yang datang ke ibukota mengadu nasib. Untuk tinggal atau menjadi warga Jakarta cukup mudah cukup menumpang pada Kartu Keluarga (KK) yang telah ada sebagai famili atau membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) Musiman. Kos-kosan dengan dari harga yang yang paling tinggi jutaan rupiah perbulan sampai harga recehan pun tersedia. Bagi yang mapu dari segi keuangan pasti akan mencari kos-kosan yang lebih baik di daerah-daerah permukiman yang lebih baik, biasanya bebas dari banjir.  Akan tetapi bagi kaum pekerja dan kaum miskin kota tempat yang paling ‘menguntungkan’ untuk mareka tinggali adalah daerah rendah bantaran sungai, dimana dapat memperoleh sumber air untuk MCK dan kebutuhan lainnya dari galian sumur-sumur bor yang ada airnya.  Dengan gaya hidup yang masih bawaan dari daerah masing-masing, dimana kebiasaan di desa-desa perilaku membuang sampah langsung di lempar ke sungai dengan harapan dibawa air sungai ke laut. Di desa tidak masalah karena jumlah rumah tangga sedikit. Perilaku  tidak mau repot-repot membuat tempat sampah, lagi pula mengeluarkan biaya dan tidak menyehatkan, karena dapat mendatangkan berbagai tikus, lalat, nyamuk, kecoa dan semacamnya sebagai agent penyebaran penyakit.  Lebih praktis dan tanpa merasa berdosa (cuek) saat-saat sepi seperti malam hari sampah-sampah tersebut dapat dibuang langsung ke kali. Demikian berlangsung dari tahun ke tahun sangat sulit berubah perilaku yang sudah terbiasa apalagi pada masyarakat yang didera kemiskinan, sikap masa bodoh dan tanpa tanggung jawab bagian dari perilaku sehari-hari. Hal ini diperparah dari perangkat pemerintah yang tidak menyediakan fasilitas tempat pembuangan sampah dan tidak adanya sosialisasi tentang kehidupan bersih dan sehat secara periodik dan terus menerus, yang menjadi masalah seakan ada semacam ‘pembiayaran’ dan tidak adanya sanksi hukum yang memadai.

Perilaku warga kota terhadap sampah sebenarnya tidak hanya masyarakat yang ‘kurang mampu’ atau masyarakat miskin, yang berperilaku membuang sampah sembarangan, akan tetapi masyarakat elite atau golongan berpunya pun tidak jarang kita mendapati perilaku membuang sampah sembarangan sembarang tempat.  Tak kecuali di jalan raya dari mobil-mobil mewah sisa  bungkusan makanan dengan mudah dilempar kejalan melalui kaca mobil, anak-anak atau orang tua. Sikap seperti itu sungguh tidak terpuji. Demikian juga bila kita menghadiri pameran atau arena olahraga, pertunjukan dan sebagainya, mareka membeli dan makanan kecil dengan bungkusan, setelah makanan dikonsumsi seenaknya bungkusan di buang sembarangan. Sudah menjadi pemandangan yang lumrah seharai-hari. Warga Jakarta atau Jabodetabek masih jauh dari budaya dan perilaku hidup bersih dengan membuang sampah di tempatnya.

Sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan yang terdiri dari berbagai jenis tersebut pada saat hujan turun akan terbawa masuk ke selokan-selokan drainase dan menyumbat aliran air yang dapat menyebabkan banjir di musim hujan. Selain itu sampah yang membusuk ditempat-tempat sudut kota akan mengundang berbagai jenis penyakit yang berasal dari binatang seperti tikus, lalat, nyamuk, kecuali dan berbagai binatang yang hidup ditempat sampah, sehingga dapat menularkan penyakit kepada warga kota. Salah satu misalnya penyakit infeksi dari kuman kencing tikus Leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira sp, dapat menyerang manusia dengan gejala demam panas, muntah, diare atau demam kuning. Selain itu juga menyebabkan penyakit yang disebabkan oleh bawaan air yang tercemar (water born deseas).

20121203Volume-Sampah-021212-wpa-2        imagesCAELK5AU Sampah yang Dibuang Sembarangan Warga Kota DKI Jakarta dan Sepasang Pemulung Sedang Bekerja Memungut Sampah-sampah yang Bisa untuk Dijualnya

Volume Sampah Jakarta & Pengelolaannya

Menurut Data dari Dinas Kebersihan DKI, Kota Jakarta dengan jumlah penduduk berkisar 10 juta jiwa (tidak termasuk 2,5 juta jiwa yang tinggal di Jabodetabek bekerja atau komuter di DKI Jakarta).  Dari jumlah penduduk tersebut menghasilkan sampah rata-rata 6500 ton sampah setiap hari. Jumlah ini meningkat signifikan di hari hari besar seperti ‘Idul Fittri dan Tahun Baru, dapat meningkat sebesar 5-10 %.  Pada tahun baru 2012 yang lalu volume sampah meningkat 20% yang dihasilkan dari tempat-tempat hiburan seperti Ragunan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) serta tempat wisata Ancol.

Pengelolaan sampah dapat ditangani dengan 3 R, yaitu REDUCE, REUSE, RECYCLE dan REPLACE. Reduce, yaitu dengan cara mereduksi atau mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan dari rumah-rumah tangga. Sebagai contoh misalnya untuk mengurangi bungkusan plastik belanjaan, dengan cara membawa tempat belanjaan dari rumah sehingga tidak banyak bungkus plastik yang diperlukan. Reuse adalah dengan cara memakai ulang berkali kali sesuatu barang sehingga efektif dan efisien tidak sekali pakai langsung dibuang, misalnya kotak-kotak, bungkusan atau botol-botol tertentu. Sedangkan Recycle adalah mendaur ulang sisa-sisa barang menjadi suatu produk yang dapat dimanfaatkan kembali, misalnya koran-koran bekas atau kardus menjadi kertas dan hiasan/lukisan, karya seni yang bermanfaat.

3R Pengelolaan Sampah 3R (Reduce, Reuse dan Recycle)

Konsep pengelolaan sampah dengan cara 3 R mungkin perlu ditambah 1 R lagi menjadi 4 R, yaitu Replace. Penanganan sampah dengan Replace dimaksudkan adalah menggantikan barang-barang yang selama ini dipakai dengan barang-barang yang lebih ramah lingkungan (environmental friendly products).

Untuk menangani jumlah volume sampah yang terus meningkat, Pemprov DKI sebenarnya telah menyediakan tempat pengolahan sampah dengan Sistem Intermediate Treatment Facilities (ITF) di tiga lokasi yaitu di daerah Cakung Cilincing (Cacing), Sunter dan Marunda. Ketiga tempat ini selain TPST Bantar Gebang Bekasi, diyakini akan mampu mengolah sampah Ibukota menjadi Bahan Bakar Gas (BBG)/ listrik, Briket Sampah dan Kompos. ITF Cacing dengan luas lahan 7,5 ha diharapkan dapat mengolah sampah sampah sebanyak 1300 ton/hari. Sampai saat tulisan ini ditulis bau mampu sekitar 500 ton/hari dan akan ditingkatkan terus.

Pengolah Sampah ITF Tempat Pengolahan Sampah

ITF Sunter dengan luas 3,5 ha mempunyai kapasitas pengolahan sampah 200 ton/hari dan ITF Marunda yang termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan luas areal 12 ha akan mampu mengolah sampah sebesar 1500 ton/hari. Selain itu Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang menggunakan metode pengelolaan sampah Sanitary Landfill -Grassifikasi Landfill-Anerobic Digestion (GALTAD) dimana telah dapat menghasilkan energi listrik dari sampah sebesar 10,5 MW, dan diperkirakan pada tahun 2023 ditargetkan menjadi 26 MW. Gas methane dari sampah yang dijadikan energi listrik  akan dapat mengurangi efek gas rumah kaca (green house effect) setiap tahun diperkirakan akan dapat mengurangi 800.000 ton emisi setiap tahun, yang merupakan kesepakatan negara -negara Anggota PBB akan protokol Kyoto Jepang tentang Perubahan Iklim (Climate Change) untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) bulan Desember tahun 1997.

Tempat Sampah     IMG_1124 Perbandingan Tempat Sampah Kota di Jakarta (sebelah Kiri) dan Tempat Sampah Kota di Barcelona, Lingkungan Tempat Sampah Kota Barcelona Bersih, Sementara di Jakarta Jorok Menjadi Sarang Hama Penyakit.

Program Pengolahan Sampah Dari Sumber 

Bagaimanapun masalah sampah tidak akan pernah selesai selama manusia masih hidup dan butuh makan. Masalahnya sebenarnya semua terkait dengan perilaku manusia itu sendiri. Bagaimana masing-masing manusia memiliki mindset (mindset adalah sikap mental yang dipakai oleh seseorang sebagai dasar untuk bersikap dan bertindak, sikap mental yang mapan yang dibentuk oleh pendidikan, pengalaman dan prasangka). Bagaimana warga Ibukota Jakarta memperlakukan dan mengemas barang-barang yang menjadi miliknya. Barang -barang tersebut bisa jadi dalam bentuk bahan mentah/bahan baku yang perlu diolah, barang jadi dan barang sisa dalam menyimpan, menggunakan maupun dibuang. Kewajiban manusia terhadap barang-barangnya itu harus diperlakukan dengan baik dengan cara mengemasnya secara baik, agar tidak tercecer atau mencemari lingkungan hidup yang dapat merusaknya dan menurunkan mutu kehidupan untuk semua.

Perilaku hidup bersih di mulai dari rumah tangga dari sejak kecil dilatih diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya generasi muda, diwariskan turun temurun, untuk mencintai lingkungan hidup, membuang sampah pada tempat sesuai dengan jenisnya. Sampah dari barang-barang sisa yang tidak dapat dipakai lagi di sortir dan dipilah menjadi Sampah organik (terdiri dari sisa-sisa sayuran dan sebagainya yang mudah terurai dari dapur), sampah An Organik (terdiri dari sampah-sampah plastik dan bahan-bahan yg tidak mudah terurai) dan sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Sampah yang sudah dipilah ini ditempatkan di tong atau tempat sampah terpisah, sehingga petugas RT/RW  dengan mudah dapat mengambilnya.  Tidak seperti selama ini sampah rumah tangga tanpa dipisah semuanya di satukan di bak/tong sampah rumah tangga. Program ini harus disosialisasikan oleh pemerintah dalam hal ini Dinas Kebersihan dan Kesehatan dan Lingkungan hidup secara terus menerus untuk menjamin masyarakat mempunyai perilaku membuang sampah yang benar. Bila perlu tempat sampah di fasilitasi pembuatannya oleh pemerintah biar ada keseragaman dengan standar tertentu. Perilaku itu akan dapat dibentuk pada masyarakat kota dengan menyediakan fasilitas dari pemerintah dan pelaksanaan aturan disiplin serta sanksi -sanksi yang benar-benar dilaksanakan pemerintah dalam hal ini Pemprov DKI yang bekerjasama dengan

Pemerintahan sekitar Jabodetabek berkoordinasi membangun sikap hidup warga kota metropolitan yang bermartabat, bermutu dan sejahtera untuk semua.  RT dan RW di kelurahan menjadi ujung tombak dalam menata ketaatan warga dalam megelola samapah di masing-masing daerah. Seandainya di setiap RW tersedia suatu tempat pengelolaan sampah 3 R, maka jumlah sampah yang harus diangkat ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan jauh berkurang. Sekarang saja menurut data yang ada di DKI, terdapat sekitar 94 titik 3 R yang tersebar di 5 wilayah kota. Dari jumlah titik ini dapat mereduksi 350 ton sampah/hari atau 5% dari total jumlah sampah. Bila hal ini dilakukan dimasing-masing RW maka kita yakin jumlah sampah rumah tangga (domestik) akan dapat teratasi.

Sanksi hukum bagi warga masyarakat yang membuang sampah sembarangan telah ada. Bagi warga yang parkir, berjualan dan buang sampah di sembarang tempat , telah diatur dalam Peraturan Pemerintah DKI  No.8 tahun 2007, dimana ancaman pidana kurungan penjara selama 6 bulan atau denda 30 juta. Akan tetapi selama ini sanksi hukum tersebut dianggap sepi oleh warga karena tanpa penindakan yang tegas, hanya berupa himbauan dan teguran. Mungkin kalau sanksi ini diterapkan dengan tegas tidak akan cukup sel penjara yang ada dan harus dibangun lebih banyak lagi, juga suatu masalah. Sedangkan untuk jumlah koruptor yang ditangkap yang notabenenya ekstra ordinary crime saja sudah kekurangan ruang  tahanan   Solusi yang paling tepat adalah himbauan dan teguran serta sosialisasi yang terus menerus kepada warga kota untuk berperilaku hidup bersih, sehat yang ramah lingkungan. Melalui tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, keagamaan dan forum silaturrahmi, arisan, adat budaya  dan sebagainya.

Himbauan dan teguran tersebut tentu saja harus dibarengi dengan upaya dari pemerintah dalam upaya membangun lingkungan pemukiman yang layak huni, tersedianya air bersih, listrik, jalan dan jembatan di daerah permukiman serta penegakan aturan kebersihan, ketertiban,  kenyamanan dan keamanan untuk mewujudkan suatu daerah pemukiman yang baik.

Jakarta, 27 Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s